Welcome

Welcome to Neyoutha For Order and Further Information, Please SMS to 08174921002

Wednesday, September 21, 2016

Makan Steak Tanpa Manner Tetap Asyik







Salah satu resto favorit kami sekeluarga adalah Steak 21. Jadi favorit karena yang pertama lokasinya dekat dengan rumah sehingga mudah dijangkau serta suasana di dalamnya buat kami nyaman. Tentu saja rasa makanan dan minumannya juga oke, didukung dengan teknik penyajian yang dengan melihatnya saja jadi bikin perut lapar.

Kalau yang lain pilih-pilih menu non lemak, seringkali kami justru mencari menu yang ada "sandunglamur"nya bahasa kerennya sirloin karena memang rasanya lebih gurih dari daging yang tidak berlemak (tenderloin). Ada satu menu makanan yang sangat kami suka namanya mashed potato, kentang kukus yang dihancurkan. Kebetulan kalau foto yang di atas itu kami lupa memesannya. menu reguler di resto ini adalah steak plus sayuran (wortel, buncis, jagung), serta frenchfries.

Kalau melihat ada nasi goreng di atas itu karena saya yang takut harus makan dobel sirloin, maklum Si besar ini kadang suka laper mata aja. Dan aturan saya adalah semua makanan yang sudah dipesan harus habis. Kan mubadzir kalau ada yang tersisa, lagian barangkali berkah makanan yang di sajikan ada di suapan terakhir. Jadi jangan heran kalau garnish yang dibuat dari tomat, timun dan selada ikut menghilang dari piring saat kami pergi. Dan ini "No Manner" pertama.

Manner yang tidak kami terapkan pada saat makan steak adalah menyuap dengan tangan kiri. Kalau itu sudah jelas, dari kecil kan sudah diajarkan kalau makan pakai tangan kanan. Dan insyaallah lebih berkah juga. Senangnya saat melihat Mas Abi memotong steaknya dangen pisau di tangan kanan, dan begitu menyuap dia tukar garpunya jadi ditangan kanan. Terkesan repot ya? tapi alhamdulillah untuk sebuah hal yang benar masih tetap asyik. Sebut saja seperti pribahasa " Berakit-rakit ke hulu bersenang-senang kemudian".

Just believe, sometimes the right thing seems unpleasant at the beginning. But at the end you will find something precious in it.

Thursday, August 4, 2016

Kembang Setaman


Cantik, itu yang terlintas ketika melihat taman yang penuh bunga.

Wednesday, August 3, 2016

Secret Garden


Daun,
Hijau muda, hijau tua
Lambang kedamaian

Awal musim semi
Merekah di tanah merah basah
Setelah salju putih mencair
Menyisakan butiran permata bening

Nun jauh di bukit seberang
Siluet pinus tak pernah berganti warna
Sementara pucuk daun baru hadir
Ceria, barbaur, dan melebur indah.

#beautifullife
#secretgarden

Friday, May 13, 2016

Trip 5 Hari Singapore-Malaysia : Berangkat Menuju Terminal 3 (Air Asia) Bandara Soekarno Hatta

Setelah berbagai persiapan yang kami lakukan dari mulai barang-barang bawaan, membeli tiket, itinerary Aku dan Mas Abipun berangkat ke Bandara. Kalau yang dua terakhir ini Kami di untungkan karena berangkat bersama dengan sang pakar jalan-jalan sebagai guide. Dan dengan kurang dari 10% kesalahan. Karena Perjalanan kami hampir sesuai dengan jadwal yang sudah kami sepakati. Selanjutnya nantikan petualangan menarik yang hanya terjadi saat travelling bersama krucil-krucil.

Berangkat dari rumah selepas shalat Dzuhur sekalian Shalat Asharnya di Jamak. Khawatir perjalanan ke Bandara macet. Dengan 2 ojek ke Plaza Cibubur, sekarang Mas Abi sudah hampir 50 kg berat badannya jadi nggak mungkin naik ojek berdua lagi.

Saat-saat menunggu bis yang ke bandara adalah saat-saat yang menegangkan. Karena aku nggak tahu jadwal bis lewat jam berapa, waktu bertanya ke warung di pinggir jalan katanya 2 jam sekali lewatnya. Waduh... bahaya. Akhirnya sempat ambil keputusan, kalau sampai jam setengah dua nggak lewat kami akan naik Taxi.

Jam 13. 23, akhirnya bus yang kita tunggu datang... Alhamdulillah lumayan lebihan ongkos taxi bisa buat jajan-jajan nanti di bandara (dasar emak-emak perhitungan). ternyata perjalanan menuju bandara tidak semacet yang aku duga, jam 14.00 sudah lewat semanggi. Jadi sekitar jam 3-an udah sampai di Bandara. Lanjut masuk n meet with my friend di J.CO.
bersambung ke...

Trip 5 Hari Singapore-Malaysia : Menunggu Boarding


Wednesday, April 13, 2016

Jimat itu apa sih? Boleh nggak kita pakai jimat?

Jimat dalam Bahasa Arab di sebut Tama'im yang merupakan bentuk jamak dari Tamimah adalah sesuatu yang dikalungkan ke leher atau bagian dari tubuh seseorang yang bertujuan mendatangkan manfaat atau menolak bala (bahaya). Bentuk jimat bisa berupa cincin, keris, tongkat, bahkan ada juga lembaran yang bertuliskan sejumlah ayat Al- Qur'an.

Bagaimana kalau jimat itu berisi ayat Al-Qur'an? Ibrahim al-Nakhai berkata, "Jimat itu haram, baik yang berasal dari Al-Qur'an maupun yang bukan dari Al-Qur'an. Al-Qur'an diturunkan bukan untuk jimat, tapi sebagai petunjuk ke jalan yang benar.

Di zaman jahiliah, orang- orang Arab biasa menggunakan jimat bagi anak- anak mereka sebagai perlindungan dari sihir atau guna- guna dan semacamnya. Hukum memakai jimat adalah syirik sebagaimana sabda Rasulullah Saw. "Sesungguhnya jampi, jimat, dan mantra- mantra adalah syirik. " (H. R. Ibnu Majah)

Jimat diharamkan oleh syariat Islam karena ia mengandung makna keterkaitan hati dan tawakal kepada selain Allah dan membuka pintu bagi masuknya kepercayaan-kepercayaan yang dapat mengantarkan seseorang pada syirik besar. Rasulullah Saw bersabda, " Barang siapa yang bergantung pada sesuatu, maka Allah akan menyerahkan urusannya pada sesuatu itu." (H.R. Tirmidzi dan Imam Ahmad)

Semoga kita dilindungi dari perbuatan-perbuatan syirik, baik yang dilakukan dengan sengaja ataupun karena ketidaktahuan. Rasulullah Saw mengajarkan do'a agar terhindar dari berbagai bentuk kemusyrikan.

Allahumma inna na'udzubika min annusyrika bika syaian na'lamuhu wa nastaghfiruka limaa laa na'lamuhu.

Artinya :

" Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari dosa syirik yang aku sadari, dan aku memohon ampun kepada-Mu dari perbuatan syirik yang tidak aku sadari." (H.R. Ahmad dan Thabrani)

Wallahu a'lam bish-shawabi

Sumber :
Buku Menelanjangi Strategi Jin
Karya : Aam Amiruddin

Buku ini dapat dibeli di online di Khazanah Intelektual

Monday, April 11, 2016

Memberi dan Menerima

Menyimak cerita dari pulau kecil di ujung timur. Tidak terlalu spesial memang, tentang seorang anak kecil yang sedang memancing di dermaga lalu dengan hanya melirik dia bisa tahu ketika di sebelahnya ada 'orang kota' salah memasang umpan di pancingan. Dan ketika ditanya dia menjelaskan dengan sangat fasih bagaimana cara memasang umpan di pancing. Ternyata memang hampir setiap hari anak tersebut memancing di dermaga.

Ketika 'orang kota' mengeluarkan umpan buatan yang memang dibuat 'eyecatching', mata si anak kecil terlihat begitu penuh rasa ingin tahu, dan waktu akhirnya ditawarkan untuk memakainya dia mengangguk. Pada akhirnya dia lupa dengan memancing karena teralihkan dengan umpan buatan yang menari-nari di tali pancingnya.

Di saat yang lain, membaca sebuah artikel seorang guru besar tentang seorang anak pedalaman yang tidak bisa menjawab soal ujian tentang perbedaan lokomotif dan gerbong. Karena memang jangankan mengamati langsung, melihat gambarnya saja belum. Alih-alih  kereta, alat transportasi seperti mobil dan motor yang biasa dilihat orang kota hampir setiap detiknya saja, mereka hanya bisa memandang dari kejauhan mungkin sekali dalam sehari, atau bahkan seminggu.

Berkaca dari semua kejadian di atas, anak- anak, adik-adik, atau bahkan kita sendiri barangkali saja memang belum mengerti, atau bahkan tidak tahu cara menghadapi persoalan hidup karena memang belum atau tidak pernah menghadapinya. Bisa jadi kita memang tidak mengetahui suatu hal, tapi sangat memahami objek yang lain dengan sangat sempurna.

Jadi rasanya tidak perlu marah, kecewa, ataupun gundah saat semua terlihat begitu tidak sempurna di mata kita. Karena ilmu Allah teramat luas, menghampar di daratan, tersembunyi di lautan, dan bahkan terbentang di angkasa.

Di satu masa tidak mengerti mungkin itu saat-saat di mana kita perlu membuka buku, mendengarkan kisah, dan menyimak  setiap kata dari orang- orang di sekitar kita. Dan suatu hari telah datang pemahaman dalam hati, tidak ada salahnya berbagi sekedar untuk memastikan yang kita dapatkan bisa bermanfaat untuk khalayak.

Special thanks for ayah Prihananto Sulistyowarno, yang cerita-cerita unik dari ujung timurnya selalu bisa menginspirasi setiap langkah mengawali hari-hari yang pastinya semakin terasa istimewa.

Sunday, April 10, 2016

Pancake Chocoffee vs Nasi Liwet Cakalang edisi MAGER



Bener-bener nggak nyambung menu sarapan pagi ini. Ini gara-gara dari kemarin mager abis. Rencananya pagi ini mau ngajak jalan pagi Mas Abi sekalian sarapan ke CP catat bukan Central Park mol yang lagi "happening" itu tapi Center Point di depan kompleks.

Ternyata yang di ajak " Aduh, Bun Abi mager nih". Dalam hati... ada nasi liwet sisa semalam di magic com, nanti di buatin telur dadar atau telur ceplok aja.

Dan nggak sampai lima menit ada yang teriak, " Bun, Abi lapar, tapi nggak mau telur lagi bosen."
Nah si otak pun berputar-putar di kulkas cuma ada telur, dan klik. " Mas, gimana kalau Bunda buatin Pancake aja??"" Iya, mau-mau". Alhamdulillah, padahal bahannya telur juga walaupun ada tambahan plus plus.

Siap kocok telur ke dapur, lupa ternyata nggak punya susu adanya milo, jadilah pancakenya pake milo dan biar ngga eneg dikasih vanilla latte dari goodday. Ahayyy... oles-oles selai strawberry dan tabur meises warna warni jadilah.


Berhubung tadi malam masak nasi liwet dan masih sisa lumayan banyak jadi bikin pancakenya nggak banyak-banyak. Yang penting cukup buat Mas Abi aja. So sarapan Bundanya Nasi Liwet plus Pampis Cakalang homemade yang udah dibuat dua hari yang lalu, untuk kepentingan emak-emak mager d rumah.

Untuk nasi liwetnya tadi malam sebetulnya seperti masak nasi biasa di "magic com", terus modal cemplung-cemplung bawang merah, daun salam, serai, dan lengkuas, minyak goreng, dan garam.

Sebetulnya agak nggak nyambung kalau nasi liwet di makan pake pampis cakalang. Karena nasi liwet itu aromanya sudah kuat dan khas. Tapi berhubung di kulkas lagi sepi ikan asin dan ada pampis yang tersisa hajar aja deh. Itu untungnya kalau kategori makannya cuma “ ENAK dan ENAK BANGET” alias doyan makan. Jadi insyaallah nggak akan ada makanan yang mubadzir terbuang di rumah ini.
Eh iya kalau daun salam dan serainya nggak dimakan ya, cuma untuk kepentingan upload sosmed aja hihihi...
Untuk resep Pancake di share di bawah ya...


RESEP PANCAKE CHOCOFFEE

Bahan :
1 btr Telur
2 sdm Tepung terigu (segitiga biru premium)
100 ml air
1 sdm margarine (di cairkan)
2 sdm milo
1 sdm Goodday Vanilla Latte
1/4 sdt baking powder
Selai Strawberry (untuk olesan)
Meises ( untuk topping)



Cara Membuat :

1. Kocok telur sampai berbuih.
2. Masukkan tepung terigu, milo, baking powder, vanilla latte kemudian aduk rata.
3 Tuangkan air, aduk kembali dan masukkan margarine yang telah dipanaskan.
4. Panaskan teflon, tuang satu sendok sayur biarkan hingga bagian atasnya tidak lengket kemudian di balik. Lalu angkat. dan simpan di piring. Begitu seterusnya hingga adonan habis.
5. Oleskan selai strawberry diantara lapisan pancake.
6. Tabur meises



Le'ts Live in Harmony

Hmm... reklamasi pantai ya? Kayaknya Indonesia itu masih luas deh. Masih banyak pulau-pulau yang jangankan dibangun, datang ke sana pun enggan.
Kalau ada lautan di buat daratan, apa nanti daratannya tidak menciut.
Saya memang bukan ahli lingkungan sih, tapi apa pada nggak pada takut alamnya sendiri mengalami kejenuhan?
Dari awal dunia ini sudah diciptakan seimbang. Kalau pada suka film Kungfu ya Yin and Yang itu.
Coba lihat kapal di laut, kalau bagian depan atau belakangnya lebih berat. Apa nggak tenggelam?
So please think carefully.... jangan sampai sibuk membangun tapi tanpa sadar malahan menciptakan kehancuran itu sendiri.


Monday, February 15, 2016

Novel Rindu_Tere Liye dan Aku

Tere Liye. Nama seorang penulis novel yang belakangan ini kukenal karena secara tidak sengaja menonton film Hafalan Surat Delisha. Selanjutnya, aku mengenal kutipan kata-kata bijaknya via fanpage. Cukup lama juga mengamati coretan-coretan kecil di page, sebelum akhirnya aku memutuskan mencoba mengkoleksi karya-karyanya.

Suatu hari ke toko buku, dan ku lihat deretan buku-buku bertuliskan Tere Liye dengan berbagai judul. Sempat sedikit galau, memilih novel mana yang akan kubeli terlebih dahulu. Sampai mata ini terpaku pada buku bersampul dasar putih biru gerimis dengan kata " RINDU". Menarik, mungkin karena di saat yang sama hatiku pun merindukan sesuatu dan seseorang di luar sana. Dan saat kubaca bagian belakangnya ada harapan aku dapat melepaskan semua kerinduanku.Sempat berprasangka juga aku akan berlinang air mata sepanjang membaca buku ini. Walaupun ternyata mata ini  baru bisa berkaca-kaca setelah membaca akhir bab ke 40.

544 halaman, 51 bab. Perjalanan panjang, petualangan, yang membuat aku benar-benar rindu membuka lagi lembaran-lembarannya. Sebelas hari selesai kubaca setelah kubeli.... itu pun di sela pekerjaan-pekerjaan rumah tangga yang harus aku kerjakan. Membuka seluruh cakrawala pikiranku, membuat aku berpikir betapa sedikit saja yang aku tahu, betapa masih banyak hal yang harus aku pelajari untuk bekal menapaki kehidupan ini. Terbayang sudah berapa ribu buku yang sudah beliau lahap untuk dapat menulis buku yang menurutku puncak pemikiran yang sempurna.

Bab satu, terasa sulit dicerna olehku. Butuh sekitar 2 hari karena memang teramat logis beliau mengenalkan latar cerita. Tapi di bab-bab selanjutnya begitu mudah di pahami karena memang jalan cerita yang menarik. Petualangan seru di kapal, di selingi kisah-kisah masa lalu tokoh utamanya. Dan ending-nya benar-benar menyenangkan. Dan aku putuskan juga buku ini layak di baca oleh Mas Abi. Dan tebak berapa lama dia menyelesaikan bab satu, tidak sampai 5 menit. Hmm... He's truelly a boy...

Sunday, December 13, 2015

Jakarta Cirebon Jakarta, 12 hour Trip

Perjalanan hari ini  benar-benar di luar schedule. Walaupun memang sudah terjadwal dari beberapa bulan yang lalu. Kalau rencana awal berangkat bersama keluarga besar untuk menghadiri pernikahan salah satu keponakan cantikku, karena Mas Abi masih harus ujian jadilah sempat memutuskan untuk tidak jadi pergi.






Namun, hari ini Mas Abi pulang agak awal dan alhamdulillah pada detik terakhir bisa dapat supir dengan syarat cuma untuk hari ini saja. Merasa beruntung memiliki tetangga yang berusaha di bidang rental mobil tapi bisa di pinjam supirnya saja. Terimakasih Ibu Netty.

Berangkat jam 11.00 dengan cuaca mendung, belum sampai gerbang kompleks hujan turun dengan derasnya. Pandangan mata pun hanya beberapa meter saja. Dalam hati berdo'a semoga dimudahkan dan dilancarkan perjalanan hari ini. Walaupun perjalanan kali ini adalah perjalanan tanpa foto, karena memang tidak membawa kamera, powerbank, hanya sebuah smartphone yang   digunakan untuk kepentingan darurat. Satu-satunya gambar yang didapat adalah foto bersama pengantin cantik yang kebetulan belum sempat membersihkan riasan.


Tol Cipali, memasuki jalan yang belum belum genap setahun difungsikan belum sempurna memang. Mengingat masih sangat sedikit sekali pembatas jalan dan kondisi jalanan yang sebagian belum di aspal, namun dengan berhati-hati saat berkendara Insyaallah bisa sampai tujuan dengan selamat. Rest area juga sudah terlihat di beberapa tempat dengan marka yang menganjurkan untuk beristirahat jika kondisi lelah dan mengantuk buat saya sudah cukup membantu.

Kalau terakhir perjalanan dari Cirebon ke Jakarta sempat membuat trauma, karena sepanjang jalan Mas Abi muntah-muntah dan setiap menitnya bertanya kapan sampai. Tapi kali ini kami semua begitu menikmati, kehadiran Tol Cipali ini benar-benar mempersingkat waktu. Meskipun pada akhirnya tidak sempat pergi ke gedung tempat resepsi, pertemuan dengan beberapa anggota keluarga sangat mengobati kerinduan dan tersenyum mengingat kenangan manis kebersamaan kami dahulu.

Selepas shalat maghrib, saatnya berpamitan dan bersiap kembali menjalani rutinitas harian esok. Lelah membuat kami terlelap tidur di perjalanan, terkecuali supir. Terimakasih, sudah mengantarkan kami sampai kembali ke rumah dengan aman dan nyaman.

Special thanks untuk ayah tersayang, yang walaupun dengan setengah hati dan terkaget-kaget mengizinkan perjalanan dadakan ini. Un-schedule, bukan ayah banget.....

Selamat menempuh hidup baru my dear Eva Puspita. Barakallah.