Welcome

Welcome to Neyoutha For Order and Further Information, Please SMS to 08174921002
Showing posts with label Warna Warni. Show all posts
Showing posts with label Warna Warni. Show all posts

Monday, April 11, 2016

Memberi dan Menerima

Menyimak cerita dari pulau kecil di ujung timur. Tidak terlalu spesial memang, tentang seorang anak kecil yang sedang memancing di dermaga lalu dengan hanya melirik dia bisa tahu ketika di sebelahnya ada 'orang kota' salah memasang umpan di pancingan. Dan ketika ditanya dia menjelaskan dengan sangat fasih bagaimana cara memasang umpan di pancing. Ternyata memang hampir setiap hari anak tersebut memancing di dermaga.

Ketika 'orang kota' mengeluarkan umpan buatan yang memang dibuat 'eyecatching', mata si anak kecil terlihat begitu penuh rasa ingin tahu, dan waktu akhirnya ditawarkan untuk memakainya dia mengangguk. Pada akhirnya dia lupa dengan memancing karena teralihkan dengan umpan buatan yang menari-nari di tali pancingnya.

Di saat yang lain, membaca sebuah artikel seorang guru besar tentang seorang anak pedalaman yang tidak bisa menjawab soal ujian tentang perbedaan lokomotif dan gerbong. Karena memang jangankan mengamati langsung, melihat gambarnya saja belum. Alih-alih  kereta, alat transportasi seperti mobil dan motor yang biasa dilihat orang kota hampir setiap detiknya saja, mereka hanya bisa memandang dari kejauhan mungkin sekali dalam sehari, atau bahkan seminggu.

Berkaca dari semua kejadian di atas, anak- anak, adik-adik, atau bahkan kita sendiri barangkali saja memang belum mengerti, atau bahkan tidak tahu cara menghadapi persoalan hidup karena memang belum atau tidak pernah menghadapinya. Bisa jadi kita memang tidak mengetahui suatu hal, tapi sangat memahami objek yang lain dengan sangat sempurna.

Jadi rasanya tidak perlu marah, kecewa, ataupun gundah saat semua terlihat begitu tidak sempurna di mata kita. Karena ilmu Allah teramat luas, menghampar di daratan, tersembunyi di lautan, dan bahkan terbentang di angkasa.

Di satu masa tidak mengerti mungkin itu saat-saat di mana kita perlu membuka buku, mendengarkan kisah, dan menyimak  setiap kata dari orang- orang di sekitar kita. Dan suatu hari telah datang pemahaman dalam hati, tidak ada salahnya berbagi sekedar untuk memastikan yang kita dapatkan bisa bermanfaat untuk khalayak.

Special thanks for ayah Prihananto Sulistyowarno, yang cerita-cerita unik dari ujung timurnya selalu bisa menginspirasi setiap langkah mengawali hari-hari yang pastinya semakin terasa istimewa.

Sunday, April 10, 2016

Pancake Chocoffee vs Nasi Liwet Cakalang edisi MAGER



Bener-bener nggak nyambung menu sarapan pagi ini. Ini gara-gara dari kemarin mager abis. Rencananya pagi ini mau ngajak jalan pagi Mas Abi sekalian sarapan ke CP catat bukan Central Park mol yang lagi "happening" itu tapi Center Point di depan kompleks.

Ternyata yang di ajak " Aduh, Bun Abi mager nih". Dalam hati... ada nasi liwet sisa semalam di magic com, nanti di buatin telur dadar atau telur ceplok aja.

Dan nggak sampai lima menit ada yang teriak, " Bun, Abi lapar, tapi nggak mau telur lagi bosen."
Nah si otak pun berputar-putar di kulkas cuma ada telur, dan klik. " Mas, gimana kalau Bunda buatin Pancake aja??"" Iya, mau-mau". Alhamdulillah, padahal bahannya telur juga walaupun ada tambahan plus plus.

Siap kocok telur ke dapur, lupa ternyata nggak punya susu adanya milo, jadilah pancakenya pake milo dan biar ngga eneg dikasih vanilla latte dari goodday. Ahayyy... oles-oles selai strawberry dan tabur meises warna warni jadilah.


Berhubung tadi malam masak nasi liwet dan masih sisa lumayan banyak jadi bikin pancakenya nggak banyak-banyak. Yang penting cukup buat Mas Abi aja. So sarapan Bundanya Nasi Liwet plus Pampis Cakalang homemade yang udah dibuat dua hari yang lalu, untuk kepentingan emak-emak mager d rumah.

Untuk nasi liwetnya tadi malam sebetulnya seperti masak nasi biasa di "magic com", terus modal cemplung-cemplung bawang merah, daun salam, serai, dan lengkuas, minyak goreng, dan garam.

Sebetulnya agak nggak nyambung kalau nasi liwet di makan pake pampis cakalang. Karena nasi liwet itu aromanya sudah kuat dan khas. Tapi berhubung di kulkas lagi sepi ikan asin dan ada pampis yang tersisa hajar aja deh. Itu untungnya kalau kategori makannya cuma “ ENAK dan ENAK BANGET” alias doyan makan. Jadi insyaallah nggak akan ada makanan yang mubadzir terbuang di rumah ini.
Eh iya kalau daun salam dan serainya nggak dimakan ya, cuma untuk kepentingan upload sosmed aja hihihi...
Untuk resep Pancake di share di bawah ya...


RESEP PANCAKE CHOCOFFEE

Bahan :
1 btr Telur
2 sdm Tepung terigu (segitiga biru premium)
100 ml air
1 sdm margarine (di cairkan)
2 sdm milo
1 sdm Goodday Vanilla Latte
1/4 sdt baking powder
Selai Strawberry (untuk olesan)
Meises ( untuk topping)



Cara Membuat :

1. Kocok telur sampai berbuih.
2. Masukkan tepung terigu, milo, baking powder, vanilla latte kemudian aduk rata.
3 Tuangkan air, aduk kembali dan masukkan margarine yang telah dipanaskan.
4. Panaskan teflon, tuang satu sendok sayur biarkan hingga bagian atasnya tidak lengket kemudian di balik. Lalu angkat. dan simpan di piring. Begitu seterusnya hingga adonan habis.
5. Oleskan selai strawberry diantara lapisan pancake.
6. Tabur meises



Sunday, December 13, 2015

Jakarta Cirebon Jakarta, 12 hour Trip

Perjalanan hari ini  benar-benar di luar schedule. Walaupun memang sudah terjadwal dari beberapa bulan yang lalu. Kalau rencana awal berangkat bersama keluarga besar untuk menghadiri pernikahan salah satu keponakan cantikku, karena Mas Abi masih harus ujian jadilah sempat memutuskan untuk tidak jadi pergi.






Namun, hari ini Mas Abi pulang agak awal dan alhamdulillah pada detik terakhir bisa dapat supir dengan syarat cuma untuk hari ini saja. Merasa beruntung memiliki tetangga yang berusaha di bidang rental mobil tapi bisa di pinjam supirnya saja. Terimakasih Ibu Netty.

Berangkat jam 11.00 dengan cuaca mendung, belum sampai gerbang kompleks hujan turun dengan derasnya. Pandangan mata pun hanya beberapa meter saja. Dalam hati berdo'a semoga dimudahkan dan dilancarkan perjalanan hari ini. Walaupun perjalanan kali ini adalah perjalanan tanpa foto, karena memang tidak membawa kamera, powerbank, hanya sebuah smartphone yang   digunakan untuk kepentingan darurat. Satu-satunya gambar yang didapat adalah foto bersama pengantin cantik yang kebetulan belum sempat membersihkan riasan.


Tol Cipali, memasuki jalan yang belum belum genap setahun difungsikan belum sempurna memang. Mengingat masih sangat sedikit sekali pembatas jalan dan kondisi jalanan yang sebagian belum di aspal, namun dengan berhati-hati saat berkendara Insyaallah bisa sampai tujuan dengan selamat. Rest area juga sudah terlihat di beberapa tempat dengan marka yang menganjurkan untuk beristirahat jika kondisi lelah dan mengantuk buat saya sudah cukup membantu.

Kalau terakhir perjalanan dari Cirebon ke Jakarta sempat membuat trauma, karena sepanjang jalan Mas Abi muntah-muntah dan setiap menitnya bertanya kapan sampai. Tapi kali ini kami semua begitu menikmati, kehadiran Tol Cipali ini benar-benar mempersingkat waktu. Meskipun pada akhirnya tidak sempat pergi ke gedung tempat resepsi, pertemuan dengan beberapa anggota keluarga sangat mengobati kerinduan dan tersenyum mengingat kenangan manis kebersamaan kami dahulu.

Selepas shalat maghrib, saatnya berpamitan dan bersiap kembali menjalani rutinitas harian esok. Lelah membuat kami terlelap tidur di perjalanan, terkecuali supir. Terimakasih, sudah mengantarkan kami sampai kembali ke rumah dengan aman dan nyaman.

Special thanks untuk ayah tersayang, yang walaupun dengan setengah hati dan terkaget-kaget mengizinkan perjalanan dadakan ini. Un-schedule, bukan ayah banget.....

Selamat menempuh hidup baru my dear Eva Puspita. Barakallah.


Tuesday, November 3, 2015

Screenshot and Us

Screenshot... akhirnya bisa juga menggunakan fitur ini. Sejak pertamakali pakai "b**ckb***y beberapa tahun lalu nggak terlalu tertarik menggunakannya. Karena harus download dulu dan kalau memori penuh jadi superlemot.

Sampai beberapa minggu yang lalu ada yang sangat membutuhkan pengiriman dokumen. Berhubung  harus sampai secepatnya ke tempat yang tingkat kesulitan membuka internetnya cukup tinggi, akibatnya dokumen harus dihantarkan via wa. Di fotolah dokumen manual dari pc. Hasilnya tidak memuaskan ada kata-kata yang tidak terbaca.

 "Coba di screenshot dokumennya". Pinta seseorang di seberang telepon waktu itu.
Jawabku kemudian, "Maunya  sih begitu , tapi aku nggak tahu caranya, kamu tahu?"
"Enggak tahu juga"
"Ya udah, nanti aku cari tahu dulu deh."

Tapi karena tidak membuahkan hasil sementara dokumen "urgent" harus sampai hari itu juga, jadilah meminta pertolongan seseorang, aku kirim email ke dia dan cling... tidak lama kemudian screenshot dokumen sudah muncul di line. Alhamdulillah, hari itu selamat mengirim dokumen. Walaupun tetap belum bisa menggunakan screenshot.

Tapi akhirnya karena harus mengurus  "re-schedule ticket" ke kantor salah satu maskapai penerbangan yang berlanjut dengan pengurusan perkartuan (bahasa baru), kalau kata mas cs yang ganteng "Pak, supaya mudah di screenshot saja, biar tidak perlu ada koneksi internet kalau harus menunjukkan kartu Bapak"

Si bapak yang satu ini pun dengan polosnya bilang, "Nah itu dia masalahnya Mas, saya belum tahu cara menggunakan screenshot". "Saya coba boleh Pak" kata si Mas Ganteng itu dengan ramahnya. Dan "klik" berhasil... "Ini Pak, menggunakan fungsi tombol power dan volume." tambahnya lagi. Hasilnya kami sangat puas dan berterimakasih dengan pelayanan cs tersebut. Pesan buat teman-teman yang bekerja di bagian pelayanan, selain harus menguasai produk knowledge, harus bisa ya mengoprasikan fitur screenshot. Buat jaga-jaga aja kalau ada bapak dan emak udik yang nyasar ke kota seperti kami ini.

Saturday, September 5, 2015

Titik Balik

Kalau ada yang pernah membaca serial "Api di Bukit Menoreh" pasti tidak asing lagi dengan salah satu tokoh utamanya "Agung Sedayu". Seorang pemuda berilmu tinggi yang sederhana dilatar belakangi awal berdirinya kerajaan Mataram. Entah mengapa, dari awal membaca serial itu, saya sudah merasa jatuh hati padanya, padahal banyak tokoh lain yang bisa membuat jatuh cinta.

Seorang pemuda tangguh yang pada masa kecil sampai remajanya begitu terlindungi, sampai-sampai dia bahkan tidak mampu membela dirinya sendiri ketika dalam keadaan bahaya.  Tapi pada akhirnya dia mengalami titik balik dan berhasil mengalahkan rasa takutnya, hanya karena lengannya tergores anak panah saat pertandingan memanah. Sifat dasarnya yang rendah hati membuat dia tidak pernah melayani tantangan bertarung dari lawan-lawannya, namun itu justru malah menjebak dia ke dalam pertarungan yang lebih besar karena lawannya merasa terlecehkan.

Sudah beberapa tahun yang lalu saya membaca serial ini, namun minggu ini ada beberapa kejadian yang membuat saya merindukan kembali "Agung Sedayu". Dari mulai kisah dari pulau Halmahera di ujung negeri tercinta ini. Sampai kejadian tadi pagi Mas Abi yang kelingkingnya terluka karena tidak sengaja masuk ke dalam kipas angin yang sedang menyala.

Hampir saja saya memarahinya ketika selesai mandi berteriak "Bunda! Bunda! " Karena biasanya masalah yang membuat dia teriak adalah seputar kecoa dan semut hitam. Saat dia memperlihatkan jarinya yang terluka, sama seperti bunda-bunda kebanyakan hampir saya menjerit ketakutan, kalau saja saya tidak melihat wajahnya yang tegar, kaget Mas Abi tidak menangis. Padahal sebelumnya kalau kulit tergores duri sedikit saja dia bisa menangis  berjam-jam dan langsung berbaring di kasur.

Langsung saya raih tangannya dan membawanya ke wastafel saya kucurkan air membersihkan jarinya yang terluka cukup besar.

Dan sekali lagi dia menahan rasa perihnya, hanya berkata "sakit bun". Rasanya airmata ini sudah mengembang, tinggal menunggu mengalir saja, namun tetap saya berdo'a jangan sampai Mas Abi melihat saya menangis.
Bukan karena melihat dia terluka, saya hampir menangis. Ketegarannya kali ini membuat saya menyadari, dia telah mulai memahami bahwa
rasa sakit bukan untuk ditangisi, sebuah titik balik dalam fase kehidupan. Dan sudah semakin dekat saat harus melepasnya belajar ke dunia luas.

Masih teringat saat mengenalkannya pertama kali pada dunia luar, saat itu di depan rumah. Dan dia tersenyum lucu saat saya berkata "Nak, lihat di atas sana ada daun hijau yang bergoyang tertiup angin, ada langit yang biru dihiasi awan putih." "Iqro bismirabbikalladzii khalaq" Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.

Tuesday, September 1, 2015

Teknologi Pasca Panen

Ketika harga komoditas turun, adalah tantangan para pemilik teknologi untuk meningkatkan daya jual.
Produk-produk mudah busuk atau "perishable food" saat panen raya pasti harganya murah. Karena memang, mereka hanya tahan beberapa hari atau bahkan berapa jam saja.
Perlunya transfer pengetahuan teknologi pasca panen dari pemilik teknologi ke petani mungkin merupakan salah satu solusi terbaik. Jadi ketika panen raya tidak terjadi hal-hal yang mubazir.
Yuk yang punya ilmu pengawetan pasca panen seperti pendinginan, pembekuan, pengalengan, pengeringan dan lain-lain di sharing jangan cuma disimpan dalam hati. Kalau memang berniat untuk membantu, mari bantu sampai ke akar tidak hanya di permukaan saja.
Tidak mudah memang, butuh waktu, tenaga, pikiran dan juga hati yang kuat, karena yang akan di rubah adalah "mindset"
Akan sulit mengubah kebiasaan membeli makanan yang sudah diawetkan dibandingkan makanan segar, namun bukankah sudah berhasil dilakukan pada berbagai komoditas di berbagai daerah seperti Malang dengan keripik apelnya, Lampung dengan keripik pisangnya, Cirebon dengan terasi udangnya bahkan waktu di Jepang sana saya makan manisan tomat yang katanya dari Indonesia. Dan saya yakin harganya tidak murah.
Saya juga sudah banyak menemukan buah kalengan, jamur kalengan, jagung kalengan apalagi ikan dan daging yang diolah dengan teknologi pengalengan di supermarket di sekitar. Bahkan gudeg jogja pun ada versi kalengannya.

Saturday, August 29, 2015

Kangkung- kangkungku

Ipomoea aquatica, ternyata bahasa latinnya kangkung bagus juga ya. Kangkung ini memang makanan rakyat, kalau pernah lihat sawah kangkung pasti berpikir menanam kangkung itu mudah. Padahal memang gampang, tinggal tancap batangnya dan langsung tumbuh. Tapi itu sekarang.

Lebih dari setahun lalu membeli bibit kangkung, semangat waktu menebar benihnya, senang rasanya waktu dari bibit-bibit itu menyembul keluar calon-calon tanaman baru. Tapi cuma sampai di situ saja. Mereka tidak bertambah besar. Duh, rasanya gimana gitu, kalau bahasa kekiniannya  "illfeel" kali ya. Akhirnya terlupakanlah ratusan bibit kangkung teronggok di sudut pintu.

Lho kok ratusan sih? Banyak ya? Jadi ceritanya suatu hari kami berjalan-jalan menikmati udara pagi di sekitar kompleks, melewati sawah kangkung, ladang bayam. Saya pun bilang sama si cinta, "Say, kepingin deh punya pohon kangkung di rumah, biar kalau mau masak tinggal petik, seperti waktu di Bandung dulu. Seperti biasa dengan bijaksana beliau pun menanggapi, boleh aja sayaang, cari aja bibitnya". "Yess! "dalam hati. Eh tapi maaf, sebenarnya sih percakapannya nggak romantis-romantis amat kayak yang di atas, itu cuma bumbu aja supaya terkesan asyik aja kalau suatu hari saya mau baca ulang coretan ini.

Singkat cerita kami pun menemukan warung bibit di pinggir jalan, dan ternyata ada benih kangkung. Waktu itu langsung bilang sama penjualnya kami mau membeli bibit kangkung, dan di ambilkanlah sebungkus bibit kangkung dari rak. "Pak, nggak ada yang lebih sedikit lagi?" Dahiku mulai berkerut. "Ini udah paling sedikit neng", sambut bapak tua itu. "Murah kok neng, cuma dua puluh ribu", katanya lagi. "Ya, udah pak kami ambil yang itu aja", jawab saya, sambil berfikir mau dikemanakan bibit setengah kg. Setelah membayar kamipun pergi sambil tersenyum-senyum membayangkan berapa hektar tanah yang kami harus miliki untuk bisa menanam bibit-bibit ini. Padahal kami cuma punya 2 pot ukuran 10cm x 50cm.

Hari pun berlalu semenjak kejadian kecambah yang gagal membesar, saya mulai lupa dengan bibit-bibit kangkung. Sampai beberapa bulan yang lalu akhirnya mengambil keputusan untuk mencoba kembali menebar bibit kangkung tersebut. Lima, hanya lima butir. Dan yang lolos sampai menjadi tanaman kangkung sesungguhnya hanya satu saja. Selanjutnya dari satu yang tumbuh besar hanya tinggal di potong dan disandingkan di sebelahnya.

Sebagai tambahan pengetahuan sambil mengingat-ingat pelajaran SMA berikut klasifikasi kangkung,

Kingdom : Plantae
Divisi: Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida;
Ordo : Solanales
Family: Convolvulaceae
Kelas: Ipomoea
Spesies : Ipomoea aquatica

Friday, August 28, 2015

Dibalik Jendela Lebar

Ketika ada yang bertanya padaku mengapa rumah ini berjendela lebar maka jawabanku akan sangat singkat, agar bisa melihat surga.
Eiits.. jangan berpikiran jauh-jauh dulu ya, kalau surga yang ini insyaallah masih bisa dirindukan kok karena memang tidak ada hubungannya dengan poligami. Walaupun belum tentu juga ketika seseorang laki-laki melakukan poligami tak ada lagi surga di rumahnya. Ah tapi belum pantas rasanya bicara tentang poligami, masih jauh rasanya ilmuku sampai di sana. Masih harus lebih banyak belajar lagi.

Kembali saja ke jendela, rumah berjendela lebar selalu mengingatkan aku akan masa kecilku. Di kala itu hatiku selalu tentram saat membuka jendela lebar-lebar dan  menatap hamparan hijau sawah dan pegunungan di hadapanku, dan buatku itulah surga dunia. Di sisi lain aku selalu bisa duduk sambil memancing atau sekedar memberi makan ikan-ikan dan menatap mereka berdesakan di kolam dari atas jendela lebar itu.

Ada saat-saat dimana aku melihat dari balik jendela, orang-orang bergegas ke mushala kala adzan berkumandang. Dan itu adalah momen terindah di masa kecilku.

Pernah juga aku melihat air tercurah dari langit kadang hanya berupa rintikan gerimis kecil yang sekedar menghilangkan dahaga kehidupan di bumi. Seringkali juga berupa guyuran derasnya air hujan yang kemudian mengalir memenuhi aliran sungai-sungai.

Dari balik jendela besar juga aku menikmati butiran salju putih seolah menari-nari di hembus dan di permainkan angin nan lembut sebelum kemudian melayang dipermukaan dan membentuk gundukan putih di tanah. Lalu kulihat pula badai menghempas butiran salju ke timur, ke barat, ke utara, ke selatan dan entah kemana lagi seolah tak perduli namun pada akhirnya berakhir terdiam di sudut luar rumah.

Suatu hari yang cerah di sisi jendela, aku menatap tanaman yang kutebas dan terluka. Dia tidak marah dan mati begitu saja. Tapi lukanya mengering seiring waktu berlalu. Dan kemudian bermunculan tunas-tunas daun hijau baru dari tepian luka, dan bahkan memberikan lebih kepadaku bunga-bunga mungil berwarna merah yang kuyakin suatu hari nanti kan menjelma menjadi buah berwarna hijau muda untuk dapat kupetik agar berguna.

Ya, selalu saja ada nilai kehidupan yang bisa kuambil saat duduk memandang dari balik jendela. Dan selalu ada surga di balik jendela lebar.

Thursday, August 27, 2015

Konflik Kepentingan

Konflik kepentingan, sepertinya heboh betul ya. Tapi pasti hampir semua orang pernah mengalaminya. Terutama bagi orang-orang seperti aku yang sering merasa nggak enak untuk menolak undangan.

Ada saat dimana aku sudah menyusun rencana dengan matang berhari- hari sebelumnya. Tapi sehari sebelum hari-H tiba-tiba ada hal lain yang memaksaku untuk membatalkan rencana yang hampir sempurna menurutku. Biasanya aku cuma bisa bilang lihat nanti aja.

Kalau sudah seperti itu aku akan membiarkan tangan-Nya yang bekerja. Karena toh aku merasa kesulitan juga untuk memilih. Walaupun mungkin pada akhirnya aku berusaha mengambil hikmah dari setiap kejadian setelahnya jika pilihanku memang tidak terpilih oleh-Nya.

Karena aku masih bisa melangkah dengan kepala tegak serta menyusun ulang rencana-rencana yang belum terlaksana. Sambil berharap semoga tidak ada yang tersakiti saat semua keputusan telah kuambil.

Wednesday, August 26, 2015

Sedia Payung Sebelum Hujan

Minggu ini benar-benar minggu yang lumayan berat buat saya. Informasi mengenai tempat-tempat yang harusnya menjadi wilayah teraman bagi anak-anak tapi malahan menjadi tempat untuk menyakiti bahkan menjadi awal anak-anak berbuat dosa. Seolah menjadi bumerang bagi kita untuk mendidik anak dengan baik.

Tapi bagi saya ini sebuah peringatan betapa selama ini kita sering lalai dengan sebuah kata "persiapan"  kita bahkan lupa ketika kecil sering di ajarkan pepatah "sedia payung sebelum hujan".

Seorang anak, sampai batas usia tertentu tetaplah seseorang yang masih memerlukan bimbingan orangtua baik itu kedua orangtuanya maupun guru di sekolah ataupun ustadz/ustadzah di pesantren.

Saat memasukkan anak ke sekolah entah TK/sekolah umum/boarding school seringkali persiapan yang kita lakukan hanyalah berupa hal yang bersifat materi atau lahiriah saja seperti uang, pelajaran A,B,C,D, atau hafalan Alqur'an.

Tentu saja saya tidak menampik  kesemuanya itu penting. Tapi bagaimana dengan kondisi jiwa si anak? Sudah siapkah dia menghadapi lingkungan yang berbeda dengan lingkungan awal dia berada.

Sayapun masih harus banyak belajar tentang hal ini, tapi paling tidak setiap kali anak saya melewati suatu jenjang saya berusaha mendampingi, bertanya apakah ada yang membuatnya tidak nyaman? Yang selalu saya tanyakan saat pulang adalah bagaimana teman-teman di sekolah hari ini. Bapak/Ibu guru bilang apa saja hari ini. Jajan apa saja hari ini. Karena dari situ saya bisa lebih mengenali karakter dan kesukaan anak saya.

Tentu saja apa yang saya lakukan belum tentu cocok dilakukan teman-teman semua karena persiapan/perlakuan kita akan tergantung lingkungan dimana anak-anak kita berada.

Sebagai contoh lingkungan sekolah negri yang mayoritas anaknya dari golongan menengah ke bawah di sana banyak jajanan yang barangkali sangat berbahaya untuk kesehatan mereka, maka tindakan pencegahan kita adalah membatasi uang jajan dan memberikan pengertian dengan cara yang baik terhadap anak-anak kita.

Lain halnya anak-anak yang bersekolah di sekolah swasta, hal yang menjadi perhatian kita adalah bagaimana agar anak-anak kita tidak terpengaruh dengan gaya hidup yang glamour dan konsumtif. Tentu saja hal itu harus dengan cara yang baik pula.

Ayahbunda yang baik, kenalilah sifat anak-anak kita dulu sebelum mengenalkan dia dengan dunia yang lebih luas lagi. Karena dunia bisa bersikap manis terhadap anak-anak kita. Namun sebaliknya dunia luar bisa menjadi awal neraka buat anak-anak kita.

Tapi tentu saja masih selalu ada harapan untuk orang-orang yang memiliki itikad baik dalam hidupnya.

Tuesday, August 18, 2015

Rumah itu kini...

Bersahabat berarti saling mengingatkan dikala hati mulai terasa menjauh dari-Nya. Saling menjaga saat kesulitan melanda. Itu yang saya alami beberapa bulan ke belakang.

Saya selalu menyukai rumah itu, tampilannya yang begitu simpel, terlihat dari luar. Sayangnya rumah itu tak berpenghuni, namun halaman depannya tampak asri  terawat karena sang empunya rumah  memang mempekerjakan partimer untuk merawat rumahnya.

Sampai suatu hari terdengar kabar bahwa rumah tersebut terjual, dan seorang teman bercerita pembelinya sebuah keluarga yang sangat baik. Dalam hati sempat penasaran juga dengan tetangga baru saya.

Beberapa waktu berlalu, sayapun sedikit demi sedikit mulai berinteraksi dengan beliau, karena hampir setiap hari memang harus melewati rumahnya, dan sesekali kami bertemu di mesjid saat ta'lim muslimah. Namun belum sempat mengenalnya lebih jauh kami sekeluarga harus pindah selama hampir satu tahun.

Ada yang berubah satu tahun sekembalinya kami dari tempat suami bertugas. Kalau sebelumnya hanya tadarus Alqur'an saja, kini ada kelas tahsin dan salah satu pengajarnya adalah "tetangga baru saya dulu" dan saat penentuan kelas ternyata saya ditempatkan di kelas beliau.

Saya merasa sangat beruntung, setelah mengenalnya lebih jauh ternyata beliau tidak hanya baik, tapi super baik. Mesjid selalu ramai  karena keaktifan beliau mengingatkan kami untuk tetap belajar dan belajar lagi. Ada satu yang paling berkesan, saat berbicara dan bertatap muka. Ketenangan jiwa  terpancar dari wajah beliau yang jernih dan bersahaja.

Namun ternyata kebersamaan kamipun harus segera berakhir, karena sesuatu dan lain hal beliau harus pindah ke kota lain, terakhir kali bertemu menjelang idul fitri ketika beberapa hari sebelum berangkat saya menyempatkan diri berkunjung ke rumah beliau. Dan disela kesibukan mempersiapkan kepindahan, beliau masih sempat membuatkan makanan untuk berbuka puasa di mesjid.

Hari itu terasa ada yang hilang dari hati saya. Kehilangan seorang yang selalu memberikan motivasi, seorang yang selalu menjadi pengingat. Namun saya berjanji dalam hati untuk tetap istiqomah di jalan-Nya. Menapaki langkah kebaikan yang pernah kami coba jalani setapak-demi setapak. Hingga berharap  Allah akan mempertemukan kami kembali di dunia yang fana ini atau kelak di jannah-Nya nanti dalam keadaan yang jauh lebih baik.

Sebulan yang lalu saat melewati rumah itu yang teringat adalah senyuman dan sapa ramah dari penghuninya. Hari ini saat memandang lagi dari kejauhan terbaca dari papan yang terpancang "di jual rumah, hubungi..."

Monday, August 17, 2015

Hati yang Tertutup

Seringkali takdir mempertemukan kita dengan orang-orang yang memiliki permasalahan besar dalam hidupnya.
Namun tak jarang masalah yang hadir dalam kehidupan mereka semata-mata karena gaya hidup yang jauh menyimpang dari cahaya kebenaran yang kita yakini
Adalah manusiawi saat kita ingin membantu meluruskan, saat mereka mengadukan permasalahan pelik kepada kita. Dan kemampuan kita hanyalah sebatas memberi saran yang baik dengan cara yang baik. Setelah itu biarkan tangan Allah yang bekerja. Karena Dialah yang memiliki hati manusia.
"Khatamallahu 'alaa quluubihim wa 'alaa sam'ihim, wa 'alaa abshaarihim ghisyaawatun wa lahum 'adzaabun 'azhiim."
Allah telah mengunci hati dan pendengaran mereka. Penglihatan mereka pun telah tertutup dan mereka akan mendapat azab yang berat. QS. Al-Baqarah : 7
Dan semoga kita bukan termasuk orang-orang yang ditutup hatinya oleh Allah SWT.
Have a nice day ......

Tuesday, July 28, 2015

Mengajar lagi

Bisa menemani anakku di masa-masa terpenting hidupnya adalah impianku. Namun setahun belakangan ini, ada yang menggelitik pikiranku. Diawali saat mengikuti kelas Bahasa Inggris di Negri Sakura (hehe...agak aneh sih harusnya belajar bahasa Jepang). Kesabaran guru kelas saya dalam mengajar dan berbagi ilmu membuat saya berangan-angan, kelak jika kembali ke Indonesia ingin mengikuti jejaknya.

Bulan demi bulan terlewati, tidak terasa hampir setahun beradaptasi sekembalinya kami ke Indonesia. Dalam sebuah pertemuan saya berkenalan dengan pemilik bimbel di perumahan tempat saya tinggal. Dan dari obrolan ringan datanglah tawaran mengajar Bahasa Inggris di lembaga yang dipimpinnya. Sempat ragu juga, khawatir tidak bisa membagi waktu. Tapi alhamdulillah setelah 3 bulan berlalu, saya malah merasa waktu saya semakin bermanfaat. 
Gairah hidup saya seolah terbangkitkan. Bagi saya mengajar adalah tentang berbagi. Semakin banyak  yang kita pelajari akan semakin banyak juga hal yang dapat kita bagi. 

Dan saya pun berkenalan lebih banyak lagi dengan karakter anak-anak di era ini. Yang bisa membuat saya semakin mengerti dan memahami my little prince yang sudah tidak kecil lagi. 

For my little family, life its not just about money and leisure. But sharing 
will make our life more meaningful.





Thursday, July 23, 2015

Introspeksi

Terkadang terlalu banyak hiburan begitu melenakan sampai tak sadar semua kesenangan di dunia hanya sementara saja.

Ketika ada seorang yang bilang kepadaku nikmati saja, rasanya tidak semudah itu. Karena hati ini masih begitu hampa.

Mungkinkah sedikit do'a yang kupanjatkan kepada Allah untuk orang-orang terkasih di sela sujudku bisa sedikit mengurangi kegelisahan jiwaku.

Dapatkah lantunan ayat-ayat suci-Mu mengisi kekosongan kalbuku.

Tidak ada salahnya mencoba lagi, bukan?

Thursday, May 21, 2015

Balita Berhitung

Boleh ga sih anak usia balita diajarin berhitung, kalau menurut saya boleh-boleh saja yang penting metode pengajarannya dikondisikan dengan masing-masing anak.
Saya sendiri mengajarkan abi berhitung sejak usia 3 bulan, karena pada saat itu dia akan tertawa saat saya berhitung 1-5 sambil menggerakkan jari-jari saya dan pada saat hitungan ke-5 saya akan menggerakkan seluruh jari tangan saya ke arahnya. Tapi beruntung waktu kecil Abi anak yang mudah menangis saat merasa tidak nyaman, jadi biasanya saat wajahnya menunjukkan tanda-tanda mau menangis saya akan ganti dengan permainan yang lain atau bahkan menggendongnya.
Ketika beranjak besar, Ayah Prihananto Sulistyowarno lain lagi cara mengajarnya. Karena hobinya lempar-lempar baju eh bola dia mengajari Abi berhitung dengan melempar bola tennis ke dinding lalu di tangkap lagi. Dan karena sudah agak besar, dan mungkin seru biasanya bertahan lama permainannya bahkan sampai hitungan ke- 100.
Tapi buat saya haram tuh hukumnya kalau mengajar anak berhitung sambil marah-marah apalagi sampai membuat anak menangis. Kalau ternyata dalam proses belajar itu seorang anak belum memahami apa yang kita ajarkan. Justru di situlah tantangan menjadi orang tua. Cukup sabarkah kita menghadapi anak-anak kita, cukup telatenkah kita mengulang lagi pelajaran-pelajaran yang kita berikan kepada mereka.
Metode pembelajaran berhitung yang kami ajarkan kepada Abi menurut kami adalah metode terbaik yang bisa kami berikan. Akan tetapi bukan hal yang mutlak harus di ikuti semua keluarga. Karena kami sepenuhnya yakin setiap keluarga memiliki standar masing-masing dalam mengajar anak-anak. Yang perlu di tekankan disini adalah jangan sampai metode yang kita ajarkan kepada anak-anak justru membuat mereka enggan untuk belajar. Dan pada saat belajar anak-anak dikondisikan sebisa mungkin dalam keadaan nyaman. Karena belajar itu adalah suatu proses, yang bisa berjalan lambat ataupun cepat sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Saturday, January 10, 2015

Awan cumolonimbus dan kawan- kawannya

the cloud -by riza kemala 
Semenjak kejadian kecelakaan pesawat Air Asia QZ 8501 awan cumolonimbus jadi bahan pembicaraan hampir di setiap media. Awan tebal pembawa badai dan petir ini disinyalir menjadi penyebab jatuhnya pesawat Air Asia ini di sekitar perairan selat karimata.

Selama ini masyarakat awam hanya mengenal awan berdasarkan pengelihatannya saja ada yang berwarna putih menhias langit dengan indahnya dan juga abu-abu yang berupakan awan mendung yang merupakan tanda-tanda akan turunnya hujan. Kemudian ada yang membentuk serat-serat halus, menggumpal menyerupai bentuk suatu benda,

Dari sudut sains awan ini di klasifikasikan menjadi beberapa kelompok :

Awan rendah 800 m - 2000m
Stratus
Tipis, meluas dan menyerupai kabut
Stratocumulus
Awan ini berbentuk gumpalan putih tipis dan tidak menimbulkan hujan
Nimbostratus
Tebal berwarna putih sedikit gelap

Awan Sedang  2km - 8km
Altostratus bentuknya seperti gumpalan kapas dan dapat menimbulkan hujan ringan
Altocumulus 
Memiliki lapisan yang tebal dan berwarna kelabu

Awan Tinggi 6 - 12 km
Cirrus
Bentuknya menyerupai serat /bulu halus dan tidak menimbulkan hujan 
Cirostatusmemiliki bentuk seperti anyaman dan tidak beraturan dapat menimbulkan halo bila terkena terpaan cahaya matahari atau bulan 
Cirocumulus berbentuk gumpalan kecil-kecil menyerupai sisik ikan 

Awan yang terbentuk karena pergerakan udara ke atas 500 - 1500 m
Cumulus menyerupai kembang kol dan terbentuk pada siang hari dan secara perlahan akan menghilang apabila menjelang malam
Cumolonimbus berbentuk gumpalan besar serta dapat mengakibatkan hujan deras dan badai




Tuesday, January 6, 2015

Penggalan Do'a Selamat itu ternyata ada di Alqur'an

Semenjak kecil saat selepas shalat berjama'ah almarhum ayahku  selalu mengeraskan bacaan do'a selamat yang belakangan aku tahu beliau mengeraskan do'a-do'anya agar kami bisa hafal. Ya... akhirnya sayapun hafal dengan sendirinya do'a tersebut, namun tanpa pernah memahami kandungan di dalamnya. Jangankan paham tahu artinya saja tidak.

Suatu hari, bertahun-tahun setelah kepergian Ayahku saat membuka Al'Qur-an ada satu penggalan kalimat yang membuat aku tertegun. Ternyata kalimat tersebut yang selalu di ulang-ulang ayahku setiap selesai shalat. Saat itu aku menangis membayangkan betapa aku dahulu selalu kesal saat ayahku membaca do'a berpanjang-panjang padahal do'a yang beliau panjatkan berasal dari kalimat-Mu

Kalimat-Mu yang tercantum dalam Surat Ali Imran : 8

"Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau condongkan hati Kami pada kesesatan setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi. "

Semoga kami semua dapat mengambil hikmah dari ayat-ayatmu. dan jagalah hati kami agar bisa tetap melangkah di jalan-Mu.

Thursday, December 11, 2014

Tentang Hati

Dalam hidup adakalanya kita merasa letih dan tersakiti. Entah karena orang yang diharapkan berbuat baik kepada kita tidak sesuai harapan atau mungkin cinta yang tak berbalas. Beribu alasan bisa saja dengan mudahnya menghasut hati yang telah terlanjur sakit melahirkan kebencian.

Sahabat, menyibukkan diri dengan kegiatan positif akan membukakan pikiran dan pada akhirnya merayu hati untuk menghadirkan cahaya terang yang terus akan bersinar.

Yakinkan hati bahwa segala yang hadir beserta alasannya, dan semua yang terjadi meskipun hanya sehelai daun yang jatuh dari dahan adalah atas sepengetahuan-Nya.

Biarkan tangan ini menulis hal yang akan membawa kebaikan
Tahan lidah ini agar hanya mengatakan hal yang bersumber dari hati yang bersih
Hiasi hidup ini dengan amalan terbaik yang kita bisa.

Have a nice day *^_^*



Tuesday, November 25, 2014

Surat Asy-Syarh dan Aku

Bisa menghafal surat Asy-Syarh (surat ke 94) karena setiap sholat maghrib bersama ayah saya dulu salah satu surat yang dibacanya adalah surat tersebut. Waktu itu hanya sekedar hafal ayatnya saja tanpa pernah faham artinya.

Ketika masih kuliah dulu di sela-sela obrolan ada salah seorang teman yang mengutip penggalan arti surat Asy-Syarh tersebut

'Sungguh, beserta kesulitan ada kemudahan' (94:5)
'Sungguh, beserta kesulitan itu ada kemudahan' (94:6)

Sampai beberapa tahun penggalan ayat itulah yang bisa membuatku tenang setiap ada kesukaran dalam hidup.

Suatu hari dalam hidup, saya dihadapkan pada pekerjaan bertumpuk yang harus selesai saat itu juga. Sebagai ibu rumah tangga yang mencoba peruntungan di ol-shop... rasanya pusing tujuh keliling... (kayaknya lebayyy banget niih) kalau dalam satu hari anak di rumah nuntut perhatian (padahal baru 1 anaknya), terus pekerjaan rumah menumpuk tambahan lagi daftar orderan yang belum di proses. Saya ingat waktu itu sudah lepas isya dan saya belum shalat. Akhirnya saya shalat Isya terus sejenak baca-baca alqur'an untuk menenangkan diri. Kebetulan yang saya baca adalah surat Asy-syarh (berharap dapat petunjuk).

Ternyata setelah dibaca seksama ke-2 ayat di atas ada pengantar dan penutupnya yang menjelaskan mengapa beserta kesulitan ada kemudahan.
Tapi disini saya cuma tulis terjemahannya saja ya... Sahabat semua bisa melihat Alqur'an masing-masing biar tidak berdebu karena jarang dibuka.

Surat Asy-Syarh (Melapangkan)
Surah ke- 94 : 8 Ayat

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang

(1) Bukankah Kami telah melapangkan hatimu?
(2) dan Kami pun telah meringankan beban darimu  *1221
(3) yang memberatkan punggungmu
(4) dan Kami tinggikan namamu *1222
(5) Sungguh, beserta kesulitan ada kemudahan
(6) Sungguh, beserta kesulitan itu ada kemudahan
(7) Apabila kamu telah selesai mengerjakan suatu urusan, maka tetaplah bekerja keras untuk
     urusan berikutnya
(8) dan hanya kepada Tuhanmu- hendaknya kamu berharap

*1221. Kesusahan yang diderita Nabi Muhammad dalam menyampaikan risalah
*1222. Meninggikan derajat dan mengikutkan namanya dengan nama Allah dalam kalimat syahadat,           menjadikan taat kepada Nabi termasuk taat kepada Allah.

Sumber : Al-Quran Al-Muasir Terjemahan Kontemporer
             Penyusun : Dr.H Aam Amiruddin

Yang pasti setelah itu sayapun mendapat sedikit pencerahan, ternyata ada harga yang harus dibayar untuk setiap kebahagiaan yang ingin kita dapatkan yaitu sebentuk kerja keras yang terus menerus dan doa yang selalu dan selalu kita panjatkan kehadirat-Nya.

Selanjutnya yang selalu saya  lakukan adalah berusaha menyelesaikan setiap masalah ataupu pekerjaan sebaik-baiknya dan setelah selesai melakukan satu pekerjaan rasanya lega sekali dan itu adalah bentuk kebahagiaan yang tak akan tergantikan.

Have a nice day  *^_^*




Wednesday, August 27, 2014

Assalamu'alaikum, selamat pagi sahabat
Masih tetap semangat kan menjalani hari Rabu Pagi ini....
Pagi ini Neyoutha ingin sharing sedikit tentang Prasangka.

Sahabat yang baik, tidak jarang ketika kita berpapasan di jalan dengan seseorang yang belum kita kenal baik saling bertegur sapa atau pun sekedar bertukar senyum.

Namun adakalanya saat kita sudah mencoba tersenyum dan ramah ternyata orang yang di maksud hanya menunduk atau malahan melihat ke arah lain.

Mari sejenak kita berbaik sangka bahwa orang tersebut mungkin menunduk karena memang pemalu atau bisa saja saat melihat ke arah lain sebenarnya dia tidak melihat kita.

Semoga dengan berbaiksangka terhadap orang lain hati kita juga akan senantiasa dijaga oleh Allah dari prasangka buruk.

Have a nice Wednesday *^_^*