Welcome

Welcome to Neyoutha For Order and Further Information, Please SMS to 08174921002

Thursday, December 15, 2016

Our First Camping and Hiking (Part 3, Habis) : Hiking Pencarian Curug

Setelah hampir semalaman hujan, udara minggu pagi sangat cerah. Memulai pagi hari dengan bersih-bersih airnya dingin dan segar. Di depan tenda masih ada beberapa onggok kayu bakar, sayang rasanya kalau terbuang sia-sia. Dan pagi yang dingin itu, mulai menghangat dengan nyala api unggun lagi. Anak-anak senang, mulai berlarian di sekitar tenda, ribut mengajak jalan-jalan mencari curug (air terjun).

Akhirnya setelah sarapan seadanya, Kami berlima (tanpa Mamah Enin, Tante Happy dan bayi Deva ) memulai petualangan yang ternyata seru. Aku hanya menyiapkan  botol air mineral 600ml dan 1 bungkus biskuit di dalam tas. Berjaga-jaga kalau ada krucil yang rewel di perjalanan. Nggak disangka-sangka teteh Dea membawa boneka beruangnya dalam perjalanan kami. Hahaa... katanya biar ikutan main di air terjun. 

Kami menyusuri jalan setapak di pinggir hutan, awalnya nggak terlalu berat karena jalan mendatar. Paling hanya duo krucil (kenzie dan yeska ) yang protes karena sandalnya kotor. Aku dan Abi memang berangkat menggunakan sepatu, khawatir licin kalau pakai sandal. Dan ternyata Benar. Mulai memasuki areal hutan lebih dalam lagi teteh dea sudah mulai melepas sandalnya. Karena rawan terpeleset. Sementara duo krucil aman karena satu tanggung jawab Om Etu dan satu lagi aku yang mengawasi. Jalan yang kami lalui hanya cukup untuk satu orang, samping kiri tebing samping kanan tanaman-tanaman yang ada di hutan. Tidak henti-hentinya aku meneriakkan agar anak-anak berjalan merapat ke arah sebelah kanan. Kadang ada dahan menghalangi jalur kami, yang hanya bisa kami lewati dengan menundukkan badan atau melompatinya. 

Semakin lama jalan semakin menanjak, dan sempat bertemu anak sekolah yang sedang berlatih. Dari situ kami tahu curug yang kami tuju airnya kering. Kalau mau melihat air terjun harus lebih ke atas lagi dan melalui tebing berbatu yang katanya penuh lumut dan sulit di daki. Tapi karena anak-anak sangat bersemangat, kami tetap meneruskan perjalanan dengan perlahan. Dan benar saja, tempat yang kami tuju kering tidak ada air. 

Karena ragu melanjutkan, mengingat kami membawa 1 balita dan preschool kami memutuskan beristirahat. Serombongan pecinta alam dri SMU di Jakarta melewati kami dengan yell-yell yang membakar semangat. Mas Abi senang sekali mendengar yell-yellnya sampai hafal. Begini kira-kira bunyi liriknya

Kalau jadi pendaki bawa carrier di pundak
Kalau jadi pemulung bawa karung di pundak
Pendaki dan pemulung sama-sama nggak mandi
Pendaki dan pemulung sama-sama berdaki

Sebenarnya Kami dua orang dewasa memutuskan kembali, dan nggak melanjutkan. Tapi melihat Mas Abi yang sudah pasang muka cemberut, akhirnya Om Etu mencoba ke atas dan mengecek kesulitan pendakian selanjutnya. Selama menunggu itulah kami bertemu dengan rombongan 2 pasang suami istri yang sepasang membawa 2 balita. Dan salah satu anaknya di gendong menggunakan carrier dipunggungnya. Mereka memang sudah berniat mendaki. Dan kami semua memutuskan menunggu om Etu kembali. Dan berdasarkan analisa, pendakian nggak mungkin dilanjutkan. Namun 2 Abege kamu sudah mulai cemberut, karena 2 keluarga yang kami temui bersepakat melanjutkan, akhirnya kami memutuskan untuk aku saja dan 2 abege yang melanjutkan. Sementara Om Etu dan 2 krucil kembali ke perkemahan. Toh bersama kami ada keluarga pecinta alam yang kelihatan sudah berpengalaman. Tapi ternyata, Alyeska ingin ikut bunda. Kalau Yeska memang sifat solidaritasnya tinggi, pergi sama-sama ya harus pulang sama-sama. 

Akhirnya kami melanjutkan perjalanan yang bikin deg-degan. Melewati batu-batu yang penuh dengan lumut, beresiko. Dalam hati berdoa terus. Dan sepanjang perjalanan itu, kamera langsung masuk ke dalam kantong. Buatku jalur ini berbahaya. Kalau mau jujur, aku benar-benar takut, tapi Mas Abi dan Teteh Dea sudah di depan dan mereka semangat sekali.

Setelah berkutat dengan tebing yang lumayan wow, kami akhirnya sampai di curug dan ternyata airnya imut lucu hihi.... Tapi sampai di sana airnya sudah nggak bening lagi karena dipakai para pemula pecinta alam untuk push-up di situ. Walaupun senang, tapi tetap aja pikiran terbayang-bayang bagaimana caranya untuk turun ke perkemahan lagi. Sampai-sampai om Etu kasih saran, nanti dalam perjalanan turun anak-anak belakangan yaa? minimal kalau jatuh di bawahnya ada yang jaga. Yaa ampuun, padahal mungkin rasa takut jatuhku melebihi mereka semua. Tapi jadi tahu, tipsnya. Jadi kalau posisi mendaki anak-anak dituntunnya di depan kita.

Perjalanan menuruni tebing eh bukit.... alhamdulillah ternyata nggak jauh dari curug ada jalur lain, jalur setapak di dalam hutan pinus. Hilang sudah kekhawatiran nggak bisa turun dari tebing batu. Jalurnya pun nggak terlalu sulit di tempuh, tidak licin karena jalannya penuh dengan daun-daun pinus yang berguguran di permukaan tanah. Seperti saat berangkat tadi, Teteh Dea dan Mas Abi kembali berada di depan karena jalurnya mudah, kami memang terpisah beberapa jauh. Nggak terlalu khawatir, karena di depan kami ada beberapa anak-anak penjaga warung yang memang tinggal di daerah sini. Perjalanan menembus hutan yang fantastik, karena diiringi celotehan aneka pertanyaan Yeska dan Kenzie. Pertanyaan apa dan mengapa mewarnai perjalanan kami. Oh iya, sempat menemukan ada daun yang bagian tengahnya berwarna hijau dan pinggirannya berwarna biru. memang kalau di hutan, vegetasinya pasti lain daripada yang lain. Lewat dari setengah perjalanan, Yeska mulai mengantuk, dan akhirnya digendong om Etu, jadilah aku dan Kenzie tertinggal paling belakang. Dan pertanyaan Kenzie di dalam hutan adalah, "Bun, itu apa putih-putih di dekat daun?" Saat aku melihat ke arah yang di tunjuknya aku nggak melihat apa-apa, akhirnya aku cuma bisa bilang "Itu awan Kenzie, karena memang aku hanya melihat awan putih di sela-sela daun. "Bukan awan Bun, itu yang dekat daun." Katanya lagi. "Oh, bunda nggak lihat zie jawabku lagi, ayo jalan lagi aja, kita sudah tertinggal jauh dari yang lain. Akhirnya Kenzie lupa dengan pertanyaannya.

Beberapa lama berjalan, akhirnya pepohonan di hutan mulai jarang dan sudah terlihat terang dan saat keluar dari jalan setapak baru sadar ada sesuatu yang berbunyi di perut. Ternyata saat pikiran terkonsentrasi pada jalur yang kita lalui rasa laparnya nggak terasa. Sampai di tenda, alhamdulillah aneka makanan sudah tersedia untuk makan siang. Dan, rasanya nikmaat....walaupun menikmatinya dengan kondisi badan yang kotor, penuh lumpur dan tanah.

Setelah makan dan bersih-bersih badan, pakaian dan sebagainya kami mulai membongkar tenda dan packing-packing. Sambil menunggu adzan Dzuhur kami duduk-duduk di warung sambil minum segelas kopi hitam, lumayan menyegarkan karena aku berniat menyetir mobil dalam perjalanan pulang. Penasaran juga, menyetir di jalan berbatu di tengah hutan. Dan alhamdulillah, meski sedikit diwarnai insiden kecil, saat berpapasan dengan mobil lain di jalan sempit. Alhamdulillah kami pulang dengan selamat di tengah derasnya hujan kota Bogor dan sekitarnya.



Monday, November 28, 2016

Our First Camping and Hiking (Part 2) : Survival and Fun


Salah satu pesan ayah saat mau berangkat kemping adalah Bunda sama Abi harus bisa memasang tenda. Oke, sebelum sibuk mengeluarkan peralatan, yang pasti menentukan posisi strategis untuk memasang tenda. Karena kami semua pecinta keindahan, jadilah dipilih lokasi yang menghadap ruangan pemandangan Kota Bogor di bawahnya di latarbelakangi hutan-hutan pinus. Kami memilih tempat yang tidk jauh dari pintu masuk, dan tentu saja peradaban alias warung karena personilnya banyak yang masih belum berpengalaman. Termasuk aku tentu saja.

Pilihan pemandangan di depan tenda

Sibuk keliling-keliling eksplorasi alam

Penampakan tenda kami, setelah berbagai editan 



Suasana dalam tenda kapasitas 4 orang
Pemandangan Sisi Lain



Pemandangan belakang tenda dekat parkir mobil juga
Kami membawa 2 tenda masing-masing berkapasitas 4 orang, dan saat pemasangan awal anak-anak excited bertanya ini dan itu. Oh iya, Sementara kakak-kakaknya sibuk memasang tenda Teteh Yeska mendapatkan teman di sana kalau nggak salah namanya Sasa yang kemping bareng bertiga bareng mama papanya di tenda yang terpasang kokoh di atas mobilnya. Tenda kedua, yang memasang cuma aku dan Om Etu karena anak-anak mulai sibuk bermain yang lain sibuk menurunkan barang-barang.
Setelah tenda terpasang, barang-barang mulai di masukkan ke dalam tenda, terutama makanan, karena disana selain kawan dari bangsa manusia ada bangsa kera juga.Kera atau monyet ya? entahlah masih belum bisa menemukan perbedaannya. Nah mereka itu suka mencuri makanan, bahkan HP. "Kenapa nyuri HP Bun? emang bisa makenya?" pertanyaan Mas Abi, ketika kami sedang memasukkan barang ke tenda. Dan jawaban saya adalah, mereka itu kepo. Hihi...

Monyet atau Kera yaa? hehee...



Siap Bertualang

Lelah

Hujan ternyata membuat suasana jadi dingin dan lapar lagi. Peralatan memasak pun di pasang. Siang itu kami memasak dengan menggunakan kompor spiritus. Dan karena baru melihat, seperti biasa ada sedikit keributan penggunaan kompor yang sudah satu set dengan panci dan cereknya. Peralatan ini ringan dan mudah dan packing-able (kosakata baru nih) karena terbuat dari aluminium dan di desain khusus.
Ini Penampakan Kompor Spiritus Aluminium

Masak air buat yuuk


Tentang tenda, di Sukamantri Camping Ground ini disewakan juga tenda ada yang berkapasitas 4 orang di sewakan dengan harga IDR 105K dan tenda yang berkapasitas 8 orang dengan harga 205K. Nah untuk tenda berkapasitas 8 orang ini lumayan enak, bisa berdiri bebas di dalamnya.

Ini penampakan tenda berkapasitas 8 orang @ IDR 205K/malam

Alhamdulillah, selepas ashar gerimis mereda sebentar, jadi bisa sedikit keliling untuk hunting foto. Seperti biasa kalau aku yang hunting foto cuma sekitar foto kegiatan, pemandangan, dan tanaman-tanaman yang menarik perhatianku.

Tanaman-tanaman hutan


Spot foto, masih renovasi

Salah satu jenis vegetasi alamnya Pakis 
Daun Pinus


waktu kecil dulu suka mainan pucuk pakis ini 


Nemu bunga ungu yang ngumpet

Ini daun biasa banget yaa sering liat kan?... 

Bunga Kuning yang kecil diantara daun hijau, eyecatching ya?

Sore beranjak malam, saatnya memikirkan pemasangan api unggun. Nggak seru deh kalau kemping nggak ada api unggunnya. Selain menjual aneka makanan, ternyata warung yang ada menjual juga kayu bakar kering. Harga per-ikatnya IDR 25K. Hwaaa.... jadi tambah enak kempingnya, nggak perlu nyari kayu kering di hutan. Belum lagi di tambah layanan si mamang dari mulai menumpuk-numpuk kayu bakar sampai menyalakan  parafin.

Walaupun di warnai gerimis yang lumayan, sekitar jam 19.00 kami mulai menyalakan api unggun. Sebetulnya pemandangan kota Kota Bogor di depan tenda bagus banget kalau di foto. Tapi karena hujan, kamera besar sudah dimasukkan ke dalam mobil, jadi yang tersisa di tenda hanya perlengkapan darurat saja. Kalau dari kamera HP nggak keliatan lampu-lampunya.

Kalau di siang hari di sekitar kami tidak ada tenda-tenda lain. Malam harinya mulai banyak tenda-tenda lain yang terpasang di sekitar kami, jadi kami tidak sendirian. Bahkan semalaman itu kami tidur dengan alunan lagu Iwan Fals. Jadi hilanglah kesan spooky kemping di tengah hutan.





Our First Camping and Hiking (Part 1) Sabtu Pagi yang Cerah di Sukamantri Camping Ground

Setelah seminggu berlalu, akhirnya menyempatkan diri menulis catatan perjalanan kemping pertama kami.

Sebetulnya sudah lama ingin memperkenalkan alam liar sama Mas Abi. Tapi baru terlaksana satu minggu yang lalu, setelah sebulan perencanaan. Karena harus dinas di luar kota Ayah nggak bisa ikut kita. Jadi Sabtu pagi itu berangkatlah sebut saja keluarga besar, di list dari yang paling tua ya Mamah (Enin), Aku, Om Etu, Tante Happy, Teteh Dea, Mas Abi, Kakak Kenzie, Teteh Yeska dan peserta terkecil Deeva (7 bulan). 

Nah, ini si Lucu Deeva (7bln) peserta camping termuda kita


Terus terang sebetulnya sedikit khawatir karena kemping di musim hujan berpotensi lebih membahayakan. Cuma berhubung guidenya sudah malang melintang di dunia pergunungan jadi oke-oke aja deh. Intinya kalau Bapak Guide berani bawa bayi 7 bulannya, maka insyaallah dipastikan lokasinya aman. Persiapan yang aku harus siapin juga cuma peralatan pribadi aja karena, perlengkapan lain seperti aneka tenda sudah di siapkan " Sang Master". Kasih bocoran yaa, si om yang satu ini pernah menaklukkan Gunung Tambora di NTB lho sama rekan PA-nya di kampus dulu. Jadi inget, suka bolak- balik ngangkot nyari peta ke BAKOSURTANAL, Bogor. Sekarang namanya masih itu bukan ya?

Ada yang lucu waktu meminta Mas Abi menyiapkan barang-barangnya untuk kemping. Daftar bawaannya adalah koleksi bantal. Dan akhirnya cuma "Si Pilo, Garuda Imut" yang lolos sensor bunda. Dan aku, selain obat-obatan pribadi cuma bawa perlengkapan mandi dan baju secukupnya.
No Lipstick, No Bedak yaa... 

Dijemput pagi-pagi jam 5.30, alhamdulillah sudah siap semua. Dan bisa di tebak kalau ada Mamah Enin pasokan makanan aman damai sejahtera. Ada nasi timbel, yang nyiapinnya dari jam 1.00 dinihari. Tidak lupa pasukan bantal dan selimut sesuai jumlah anak memenuhi mobil bagian belakang. Makasih ya Nin.
Sengaja berangkat pagi-pagi karena menghindari kemacetan sabtu pagi, karena tujuan kami ke arah Bogor. Dan tentu saja mempertimbangkan juga Kota Bogor yang sering hujan disore hari. Jadi kalaupun hujan, tenda kami diperkirakan sudah jadi. Dan seperti yang di perkirakan perjalanan ke arah Bogor lancar, dari Bogor kami mengarah ke Ciapus, lokasi kemping kami kali ini adalah Sukamantri Camping Ground. Sekitar 2km mengarah ke lokasi, jalannya jalanan mulai tidak beraspal cuma batu-batu aja. Awalnya melewati peternakan yang luas, dan makin dekat ke lokasi langit mulai tidak terlihat, karena tertutup rimbunan hijaunya pepohonan. 

Pohon cantik yang tinggi ini kami lalui selama perjalanan

Jalan ini yang kami lewati sepanjang hampir 2 km

Beberapa vegetasi di perjalanan menuju camping ground 



Pintu Masuk Area Camping Ground


Dilarang Berburu ya, 

Kita ada di sini nih 
Tidak melihat orang di perjalanan membuat kami merasa lega saat sampai di lokasi, karena ada beberapa penjaga plus warung kecil yang berjejer menjual berbagai kebutuhan. Oh iya, saat masuk dikenakan biaya Rp.20,000/orang. Di lokasi perkemahan juga tersedia toilet, mushalla. Jadi kalau mau buang air, nggak mesti ke sungai lah yaa.... 

Deretan warung kecil

Mushalla dan Pancuran



Toiletnya lumayan bersih 


Wednesday, September 21, 2016

Makan Steak Tanpa Manner Tetap Asyik







Salah satu resto favorit kami sekeluarga adalah Steak 21. Jadi favorit karena yang pertama lokasinya dekat dengan rumah sehingga mudah dijangkau serta suasana di dalamnya buat kami nyaman. Tentu saja rasa makanan dan minumannya juga oke, didukung dengan teknik penyajian yang dengan melihatnya saja jadi bikin perut lapar.

Kalau yang lain pilih-pilih menu non lemak, seringkali kami justru mencari menu yang ada "sandunglamur"nya bahasa kerennya sirloin karena memang rasanya lebih gurih dari daging yang tidak berlemak (tenderloin). Ada satu menu makanan yang sangat kami suka namanya mashed potato, kentang kukus yang dihancurkan. Kebetulan kalau foto yang di atas itu kami lupa memesannya. menu reguler di resto ini adalah steak plus sayuran (wortel, buncis, jagung), serta frenchfries.

Kalau melihat ada nasi goreng di atas itu karena saya yang takut harus makan dobel sirloin, maklum Si besar ini kadang suka laper mata aja. Dan aturan saya adalah semua makanan yang sudah dipesan harus habis. Kan mubadzir kalau ada yang tersisa, lagian barangkali berkah makanan yang di sajikan ada di suapan terakhir. Jadi jangan heran kalau garnish yang dibuat dari tomat, timun dan selada ikut menghilang dari piring saat kami pergi. Dan ini "No Manner" pertama.

Manner yang tidak kami terapkan pada saat makan steak adalah menyuap dengan tangan kiri. Kalau itu sudah jelas, dari kecil kan sudah diajarkan kalau makan pakai tangan kanan. Dan insyaallah lebih berkah juga. Senangnya saat melihat Mas Abi memotong steaknya dangen pisau di tangan kanan, dan begitu menyuap dia tukar garpunya jadi ditangan kanan. Terkesan repot ya? tapi alhamdulillah untuk sebuah hal yang benar masih tetap asyik. Sebut saja seperti pribahasa " Berakit-rakit ke hulu bersenang-senang kemudian".

Just believe, sometimes the right thing seems unpleasant at the beginning. But at the end you will find something precious in it.

Thursday, August 4, 2016

Kembang Setaman


Cantik, itu yang terlintas ketika melihat taman yang penuh bunga.

Wednesday, August 3, 2016

Secret Garden


Daun,
Hijau muda, hijau tua
Lambang kedamaian

Awal musim semi
Merekah di tanah merah basah
Setelah salju putih mencair
Menyisakan butiran permata bening

Nun jauh di bukit seberang
Siluet pinus tak pernah berganti warna
Sementara pucuk daun baru hadir
Ceria, barbaur, dan melebur indah.

#beautifullife
#secretgarden

Friday, May 13, 2016

Trip 5 Hari Singapore-Malaysia : Berangkat Menuju Terminal 3 (Air Asia) Bandara Soekarno Hatta

Setelah berbagai persiapan yang kami lakukan dari mulai barang-barang bawaan, membeli tiket, itinerary Aku dan Mas Abipun berangkat ke Bandara. Kalau yang dua terakhir ini Kami di untungkan karena berangkat bersama dengan sang pakar jalan-jalan sebagai guide. Dan dengan kurang dari 10% kesalahan. Karena Perjalanan kami hampir sesuai dengan jadwal yang sudah kami sepakati. Selanjutnya nantikan petualangan menarik yang hanya terjadi saat travelling bersama krucil-krucil.

Berangkat dari rumah selepas shalat Dzuhur sekalian Shalat Asharnya di Jamak. Khawatir perjalanan ke Bandara macet. Dengan 2 ojek ke Plaza Cibubur, sekarang Mas Abi sudah hampir 50 kg berat badannya jadi nggak mungkin naik ojek berdua lagi.

Saat-saat menunggu bis yang ke bandara adalah saat-saat yang menegangkan. Karena aku nggak tahu jadwal bis lewat jam berapa, waktu bertanya ke warung di pinggir jalan katanya 2 jam sekali lewatnya. Waduh... bahaya. Akhirnya sempat ambil keputusan, kalau sampai jam setengah dua nggak lewat kami akan naik Taxi.

Jam 13. 23, akhirnya bus yang kita tunggu datang... Alhamdulillah lumayan lebihan ongkos taxi bisa buat jajan-jajan nanti di bandara (dasar emak-emak perhitungan). ternyata perjalanan menuju bandara tidak semacet yang aku duga, jam 14.00 sudah lewat semanggi. Jadi sekitar jam 3-an udah sampai di Bandara. Lanjut masuk n meet with my friend di J.CO.
bersambung ke...

Trip 5 Hari Singapore-Malaysia : Menunggu Boarding


Wednesday, April 13, 2016

Jimat itu apa sih? Boleh nggak kita pakai jimat?

Jimat dalam Bahasa Arab di sebut Tama'im yang merupakan bentuk jamak dari Tamimah adalah sesuatu yang dikalungkan ke leher atau bagian dari tubuh seseorang yang bertujuan mendatangkan manfaat atau menolak bala (bahaya). Bentuk jimat bisa berupa cincin, keris, tongkat, bahkan ada juga lembaran yang bertuliskan sejumlah ayat Al- Qur'an.

Bagaimana kalau jimat itu berisi ayat Al-Qur'an? Ibrahim al-Nakhai berkata, "Jimat itu haram, baik yang berasal dari Al-Qur'an maupun yang bukan dari Al-Qur'an. Al-Qur'an diturunkan bukan untuk jimat, tapi sebagai petunjuk ke jalan yang benar.

Di zaman jahiliah, orang- orang Arab biasa menggunakan jimat bagi anak- anak mereka sebagai perlindungan dari sihir atau guna- guna dan semacamnya. Hukum memakai jimat adalah syirik sebagaimana sabda Rasulullah Saw. "Sesungguhnya jampi, jimat, dan mantra- mantra adalah syirik. " (H. R. Ibnu Majah)

Jimat diharamkan oleh syariat Islam karena ia mengandung makna keterkaitan hati dan tawakal kepada selain Allah dan membuka pintu bagi masuknya kepercayaan-kepercayaan yang dapat mengantarkan seseorang pada syirik besar. Rasulullah Saw bersabda, " Barang siapa yang bergantung pada sesuatu, maka Allah akan menyerahkan urusannya pada sesuatu itu." (H.R. Tirmidzi dan Imam Ahmad)

Semoga kita dilindungi dari perbuatan-perbuatan syirik, baik yang dilakukan dengan sengaja ataupun karena ketidaktahuan. Rasulullah Saw mengajarkan do'a agar terhindar dari berbagai bentuk kemusyrikan.

Allahumma inna na'udzubika min annusyrika bika syaian na'lamuhu wa nastaghfiruka limaa laa na'lamuhu.

Artinya :

" Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari dosa syirik yang aku sadari, dan aku memohon ampun kepada-Mu dari perbuatan syirik yang tidak aku sadari." (H.R. Ahmad dan Thabrani)

Wallahu a'lam bish-shawabi

Sumber :
Buku Menelanjangi Strategi Jin
Karya : Aam Amiruddin

Buku ini dapat dibeli di online di Khazanah Intelektual

Monday, April 11, 2016

Memberi dan Menerima

Menyimak cerita dari pulau kecil di ujung timur. Tidak terlalu spesial memang, tentang seorang anak kecil yang sedang memancing di dermaga lalu dengan hanya melirik dia bisa tahu ketika di sebelahnya ada 'orang kota' salah memasang umpan di pancingan. Dan ketika ditanya dia menjelaskan dengan sangat fasih bagaimana cara memasang umpan di pancing. Ternyata memang hampir setiap hari anak tersebut memancing di dermaga.

Ketika 'orang kota' mengeluarkan umpan buatan yang memang dibuat 'eyecatching', mata si anak kecil terlihat begitu penuh rasa ingin tahu, dan waktu akhirnya ditawarkan untuk memakainya dia mengangguk. Pada akhirnya dia lupa dengan memancing karena teralihkan dengan umpan buatan yang menari-nari di tali pancingnya.

Di saat yang lain, membaca sebuah artikel seorang guru besar tentang seorang anak pedalaman yang tidak bisa menjawab soal ujian tentang perbedaan lokomotif dan gerbong. Karena memang jangankan mengamati langsung, melihat gambarnya saja belum. Alih-alih  kereta, alat transportasi seperti mobil dan motor yang biasa dilihat orang kota hampir setiap detiknya saja, mereka hanya bisa memandang dari kejauhan mungkin sekali dalam sehari, atau bahkan seminggu.

Berkaca dari semua kejadian di atas, anak- anak, adik-adik, atau bahkan kita sendiri barangkali saja memang belum mengerti, atau bahkan tidak tahu cara menghadapi persoalan hidup karena memang belum atau tidak pernah menghadapinya. Bisa jadi kita memang tidak mengetahui suatu hal, tapi sangat memahami objek yang lain dengan sangat sempurna.

Jadi rasanya tidak perlu marah, kecewa, ataupun gundah saat semua terlihat begitu tidak sempurna di mata kita. Karena ilmu Allah teramat luas, menghampar di daratan, tersembunyi di lautan, dan bahkan terbentang di angkasa.

Di satu masa tidak mengerti mungkin itu saat-saat di mana kita perlu membuka buku, mendengarkan kisah, dan menyimak  setiap kata dari orang- orang di sekitar kita. Dan suatu hari telah datang pemahaman dalam hati, tidak ada salahnya berbagi sekedar untuk memastikan yang kita dapatkan bisa bermanfaat untuk khalayak.

Special thanks for ayah Prihananto Sulistyowarno, yang cerita-cerita unik dari ujung timurnya selalu bisa menginspirasi setiap langkah mengawali hari-hari yang pastinya semakin terasa istimewa.

Sunday, April 10, 2016

Pancake Chocoffee vs Nasi Liwet Cakalang edisi MAGER



Bener-bener nggak nyambung menu sarapan pagi ini. Ini gara-gara dari kemarin mager abis. Rencananya pagi ini mau ngajak jalan pagi Mas Abi sekalian sarapan ke CP catat bukan Central Park mol yang lagi "happening" itu tapi Center Point di depan kompleks.

Ternyata yang di ajak " Aduh, Bun Abi mager nih". Dalam hati... ada nasi liwet sisa semalam di magic com, nanti di buatin telur dadar atau telur ceplok aja.

Dan nggak sampai lima menit ada yang teriak, " Bun, Abi lapar, tapi nggak mau telur lagi bosen."
Nah si otak pun berputar-putar di kulkas cuma ada telur, dan klik. " Mas, gimana kalau Bunda buatin Pancake aja??"" Iya, mau-mau". Alhamdulillah, padahal bahannya telur juga walaupun ada tambahan plus plus.

Siap kocok telur ke dapur, lupa ternyata nggak punya susu adanya milo, jadilah pancakenya pake milo dan biar ngga eneg dikasih vanilla latte dari goodday. Ahayyy... oles-oles selai strawberry dan tabur meises warna warni jadilah.


Berhubung tadi malam masak nasi liwet dan masih sisa lumayan banyak jadi bikin pancakenya nggak banyak-banyak. Yang penting cukup buat Mas Abi aja. So sarapan Bundanya Nasi Liwet plus Pampis Cakalang homemade yang udah dibuat dua hari yang lalu, untuk kepentingan emak-emak mager d rumah.

Untuk nasi liwetnya tadi malam sebetulnya seperti masak nasi biasa di "magic com", terus modal cemplung-cemplung bawang merah, daun salam, serai, dan lengkuas, minyak goreng, dan garam.

Sebetulnya agak nggak nyambung kalau nasi liwet di makan pake pampis cakalang. Karena nasi liwet itu aromanya sudah kuat dan khas. Tapi berhubung di kulkas lagi sepi ikan asin dan ada pampis yang tersisa hajar aja deh. Itu untungnya kalau kategori makannya cuma “ ENAK dan ENAK BANGET” alias doyan makan. Jadi insyaallah nggak akan ada makanan yang mubadzir terbuang di rumah ini.
Eh iya kalau daun salam dan serainya nggak dimakan ya, cuma untuk kepentingan upload sosmed aja hihihi...
Untuk resep Pancake di share di bawah ya...


RESEP PANCAKE CHOCOFFEE

Bahan :
1 btr Telur
2 sdm Tepung terigu (segitiga biru premium)
100 ml air
1 sdm margarine (di cairkan)
2 sdm milo
1 sdm Goodday Vanilla Latte
1/4 sdt baking powder
Selai Strawberry (untuk olesan)
Meises ( untuk topping)



Cara Membuat :

1. Kocok telur sampai berbuih.
2. Masukkan tepung terigu, milo, baking powder, vanilla latte kemudian aduk rata.
3 Tuangkan air, aduk kembali dan masukkan margarine yang telah dipanaskan.
4. Panaskan teflon, tuang satu sendok sayur biarkan hingga bagian atasnya tidak lengket kemudian di balik. Lalu angkat. dan simpan di piring. Begitu seterusnya hingga adonan habis.
5. Oleskan selai strawberry diantara lapisan pancake.
6. Tabur meises



Le'ts Live in Harmony

Hmm... reklamasi pantai ya? Kayaknya Indonesia itu masih luas deh. Masih banyak pulau-pulau yang jangankan dibangun, datang ke sana pun enggan.
Kalau ada lautan di buat daratan, apa nanti daratannya tidak menciut.
Saya memang bukan ahli lingkungan sih, tapi apa pada nggak pada takut alamnya sendiri mengalami kejenuhan?
Dari awal dunia ini sudah diciptakan seimbang. Kalau pada suka film Kungfu ya Yin and Yang itu.
Coba lihat kapal di laut, kalau bagian depan atau belakangnya lebih berat. Apa nggak tenggelam?
So please think carefully.... jangan sampai sibuk membangun tapi tanpa sadar malahan menciptakan kehancuran itu sendiri.


Monday, February 15, 2016

Novel Rindu_Tere Liye dan Aku

Tere Liye. Nama seorang penulis novel yang belakangan ini kukenal karena secara tidak sengaja menonton film Hafalan Surat Delisha. Selanjutnya, aku mengenal kutipan kata-kata bijaknya via fanpage. Cukup lama juga mengamati coretan-coretan kecil di page, sebelum akhirnya aku memutuskan mencoba mengkoleksi karya-karyanya.

Suatu hari ke toko buku, dan ku lihat deretan buku-buku bertuliskan Tere Liye dengan berbagai judul. Sempat sedikit galau, memilih novel mana yang akan kubeli terlebih dahulu. Sampai mata ini terpaku pada buku bersampul dasar putih biru gerimis dengan kata " RINDU". Menarik, mungkin karena di saat yang sama hatiku pun merindukan sesuatu dan seseorang di luar sana. Dan saat kubaca bagian belakangnya ada harapan aku dapat melepaskan semua kerinduanku.Sempat berprasangka juga aku akan berlinang air mata sepanjang membaca buku ini. Walaupun ternyata mata ini  baru bisa berkaca-kaca setelah membaca akhir bab ke 40.

544 halaman, 51 bab. Perjalanan panjang, petualangan, yang membuat aku benar-benar rindu membuka lagi lembaran-lembarannya. Sebelas hari selesai kubaca setelah kubeli.... itu pun di sela pekerjaan-pekerjaan rumah tangga yang harus aku kerjakan. Membuka seluruh cakrawala pikiranku, membuat aku berpikir betapa sedikit saja yang aku tahu, betapa masih banyak hal yang harus aku pelajari untuk bekal menapaki kehidupan ini. Terbayang sudah berapa ribu buku yang sudah beliau lahap untuk dapat menulis buku yang menurutku puncak pemikiran yang sempurna.

Bab satu, terasa sulit dicerna olehku. Butuh sekitar 2 hari karena memang teramat logis beliau mengenalkan latar cerita. Tapi di bab-bab selanjutnya begitu mudah di pahami karena memang jalan cerita yang menarik. Petualangan seru di kapal, di selingi kisah-kisah masa lalu tokoh utamanya. Dan ending-nya benar-benar menyenangkan. Dan aku putuskan juga buku ini layak di baca oleh Mas Abi. Dan tebak berapa lama dia menyelesaikan bab satu, tidak sampai 5 menit. Hmm... He's truelly a boy...

Sunday, December 13, 2015

Jakarta Cirebon Jakarta, 12 hour Trip

Perjalanan hari ini  benar-benar di luar schedule. Walaupun memang sudah terjadwal dari beberapa bulan yang lalu. Kalau rencana awal berangkat bersama keluarga besar untuk menghadiri pernikahan salah satu keponakan cantikku, karena Mas Abi masih harus ujian jadilah sempat memutuskan untuk tidak jadi pergi.






Namun, hari ini Mas Abi pulang agak awal dan alhamdulillah pada detik terakhir bisa dapat supir dengan syarat cuma untuk hari ini saja. Merasa beruntung memiliki tetangga yang berusaha di bidang rental mobil tapi bisa di pinjam supirnya saja. Terimakasih Ibu Netty.

Berangkat jam 11.00 dengan cuaca mendung, belum sampai gerbang kompleks hujan turun dengan derasnya. Pandangan mata pun hanya beberapa meter saja. Dalam hati berdo'a semoga dimudahkan dan dilancarkan perjalanan hari ini. Walaupun perjalanan kali ini adalah perjalanan tanpa foto, karena memang tidak membawa kamera, powerbank, hanya sebuah smartphone yang   digunakan untuk kepentingan darurat. Satu-satunya gambar yang didapat adalah foto bersama pengantin cantik yang kebetulan belum sempat membersihkan riasan.


Tol Cipali, memasuki jalan yang belum belum genap setahun difungsikan belum sempurna memang. Mengingat masih sangat sedikit sekali pembatas jalan dan kondisi jalanan yang sebagian belum di aspal, namun dengan berhati-hati saat berkendara Insyaallah bisa sampai tujuan dengan selamat. Rest area juga sudah terlihat di beberapa tempat dengan marka yang menganjurkan untuk beristirahat jika kondisi lelah dan mengantuk buat saya sudah cukup membantu.

Kalau terakhir perjalanan dari Cirebon ke Jakarta sempat membuat trauma, karena sepanjang jalan Mas Abi muntah-muntah dan setiap menitnya bertanya kapan sampai. Tapi kali ini kami semua begitu menikmati, kehadiran Tol Cipali ini benar-benar mempersingkat waktu. Meskipun pada akhirnya tidak sempat pergi ke gedung tempat resepsi, pertemuan dengan beberapa anggota keluarga sangat mengobati kerinduan dan tersenyum mengingat kenangan manis kebersamaan kami dahulu.

Selepas shalat maghrib, saatnya berpamitan dan bersiap kembali menjalani rutinitas harian esok. Lelah membuat kami terlelap tidur di perjalanan, terkecuali supir. Terimakasih, sudah mengantarkan kami sampai kembali ke rumah dengan aman dan nyaman.

Special thanks untuk ayah tersayang, yang walaupun dengan setengah hati dan terkaget-kaget mengizinkan perjalanan dadakan ini. Un-schedule, bukan ayah banget.....

Selamat menempuh hidup baru my dear Eva Puspita. Barakallah.


Tuesday, November 3, 2015

Screenshot and Us

Screenshot... akhirnya bisa juga menggunakan fitur ini. Sejak pertamakali pakai "b**ckb***y beberapa tahun lalu nggak terlalu tertarik menggunakannya. Karena harus download dulu dan kalau memori penuh jadi superlemot.

Sampai beberapa minggu yang lalu ada yang sangat membutuhkan pengiriman dokumen. Berhubung  harus sampai secepatnya ke tempat yang tingkat kesulitan membuka internetnya cukup tinggi, akibatnya dokumen harus dihantarkan via wa. Di fotolah dokumen manual dari pc. Hasilnya tidak memuaskan ada kata-kata yang tidak terbaca.

 "Coba di screenshot dokumennya". Pinta seseorang di seberang telepon waktu itu.
Jawabku kemudian, "Maunya  sih begitu , tapi aku nggak tahu caranya, kamu tahu?"
"Enggak tahu juga"
"Ya udah, nanti aku cari tahu dulu deh."

Tapi karena tidak membuahkan hasil sementara dokumen "urgent" harus sampai hari itu juga, jadilah meminta pertolongan seseorang, aku kirim email ke dia dan cling... tidak lama kemudian screenshot dokumen sudah muncul di line. Alhamdulillah, hari itu selamat mengirim dokumen. Walaupun tetap belum bisa menggunakan screenshot.

Tapi akhirnya karena harus mengurus  "re-schedule ticket" ke kantor salah satu maskapai penerbangan yang berlanjut dengan pengurusan perkartuan (bahasa baru), kalau kata mas cs yang ganteng "Pak, supaya mudah di screenshot saja, biar tidak perlu ada koneksi internet kalau harus menunjukkan kartu Bapak"

Si bapak yang satu ini pun dengan polosnya bilang, "Nah itu dia masalahnya Mas, saya belum tahu cara menggunakan screenshot". "Saya coba boleh Pak" kata si Mas Ganteng itu dengan ramahnya. Dan "klik" berhasil... "Ini Pak, menggunakan fungsi tombol power dan volume." tambahnya lagi. Hasilnya kami sangat puas dan berterimakasih dengan pelayanan cs tersebut. Pesan buat teman-teman yang bekerja di bagian pelayanan, selain harus menguasai produk knowledge, harus bisa ya mengoprasikan fitur screenshot. Buat jaga-jaga aja kalau ada bapak dan emak udik yang nyasar ke kota seperti kami ini.

Wednesday, October 28, 2015

Petualangan Kimi dan Timi (7)

Hai, namaku Kimi
Usiaku 8 tahun dan sekarang duduk di kelas 2 SD
Aku mempunyai adik laki-laki yang bernama Timi
Dia berusia 5 tahun dan duduk bersekolah TK
Ini kisahku bersama Timi……
Katak berekor
"Kimi, coba lihat kesini! Di kolam ada jelly hitam putih panjang." Timi berteriak sambil meraih benda berlendir dari dalam kolam.
Kimi pun berjalan menghampiri Timi adiknya. "Wah, sebaiknya kamu letakkan kembali Timi, itu telur katak. Kamu lihat yang hitam-hitam itu? Beberapa hari lagi akan menetas menjadi kecebong."
"Kecebong itu apa Kimi?" Tanya Timi sambil mengerutkan dahinya. "Kecebong itu anak katak, bentuknya lonjong, berekor dan bisa berenang. "
"Tapi Kimi, Katak kan tidak mempunyai ekor. Kenapa anaknya ada ekornya?" Tambah Kimi lagi
"Nanti kalau sudah jadi katak dewasa ekornya menghilang
Kenapa bisa menghilang? Hilangnya kemana, Kimi? Timi pun bertanya lagi
"Saat kecebong perlahan menjadi katak, ekornya memendek dan akan tumbuh kaki-kaki supaya bisa melompat. Karena kalau sudah dewasa katak hidup di darat."
"Apa semua telur hitam ini akan berubah menjadi kecebong Kimi? Nanti kolam kita penuh dengan kecebong dong. Apa kita perlu membuat rumah katak kalau nanti sudah berubah?
"Nanti kolam ini akan penuh kecebong. Tapi kalaupun semua berhasil hidup dan berubah, Kataknya akan mencari tempat sendiri." Timpal Kimi
"Tapi aku akan membuat rumah untuk katak Kimi, aku akan tunggu di sini dan melihat kapan telur itu menetas jadi kecebong lalu berubah menjadi katak."
"Tapi Timi itu akan memakan waktu berminggu-minggu. " Kimi tampak bingung dengan keinginan Timi. "Tidak apa-apa aku akan berkemah di sini dan membawa bekal makanan. " Kilah Timi lagi. "Ooh baiklah Timi, terserah saja. " Kimi pun menjawab lemah.
Fakta tentang katak :
-Telur katak berbentuk jelly dan berada dalam air kolam atau danau, namun struktur telur katak hijau berbentuk seperti busa.
- Daur hidup katak disebut metamorfosis.
- Telur katak menetas menjadi berudu atau kecebong setelah kurang lebih 3 minggu.
- Berudu akan mengalami perubahan menjadi katak setelah kira-kira berusia 8 hingga 12. minggu
- Perubahan berudu menjadi katak diawali dengan munculnya belakang diikuti kaki depan.
- Berudu/kecebong bernapas dengan menggunakan insang, katak dewasa bernapas dengan menggunakan paru-paru dan kulit.
-Katak termasuk hewan insektivora atau hewan pemakan serangga, lidahnya dapat memanjang untuk menangkap serangga.

Saturday, September 5, 2015

Titik Balik

Kalau ada yang pernah membaca serial "Api di Bukit Menoreh" pasti tidak asing lagi dengan salah satu tokoh utamanya "Agung Sedayu". Seorang pemuda berilmu tinggi yang sederhana dilatar belakangi awal berdirinya kerajaan Mataram. Entah mengapa, dari awal membaca serial itu, saya sudah merasa jatuh hati padanya, padahal banyak tokoh lain yang bisa membuat jatuh cinta.

Seorang pemuda tangguh yang pada masa kecil sampai remajanya begitu terlindungi, sampai-sampai dia bahkan tidak mampu membela dirinya sendiri ketika dalam keadaan bahaya.  Tapi pada akhirnya dia mengalami titik balik dan berhasil mengalahkan rasa takutnya, hanya karena lengannya tergores anak panah saat pertandingan memanah. Sifat dasarnya yang rendah hati membuat dia tidak pernah melayani tantangan bertarung dari lawan-lawannya, namun itu justru malah menjebak dia ke dalam pertarungan yang lebih besar karena lawannya merasa terlecehkan.

Sudah beberapa tahun yang lalu saya membaca serial ini, namun minggu ini ada beberapa kejadian yang membuat saya merindukan kembali "Agung Sedayu". Dari mulai kisah dari pulau Halmahera di ujung negeri tercinta ini. Sampai kejadian tadi pagi Mas Abi yang kelingkingnya terluka karena tidak sengaja masuk ke dalam kipas angin yang sedang menyala.

Hampir saja saya memarahinya ketika selesai mandi berteriak "Bunda! Bunda! " Karena biasanya masalah yang membuat dia teriak adalah seputar kecoa dan semut hitam. Saat dia memperlihatkan jarinya yang terluka, sama seperti bunda-bunda kebanyakan hampir saya menjerit ketakutan, kalau saja saya tidak melihat wajahnya yang tegar, kaget Mas Abi tidak menangis. Padahal sebelumnya kalau kulit tergores duri sedikit saja dia bisa menangis  berjam-jam dan langsung berbaring di kasur.

Langsung saya raih tangannya dan membawanya ke wastafel saya kucurkan air membersihkan jarinya yang terluka cukup besar.

Dan sekali lagi dia menahan rasa perihnya, hanya berkata "sakit bun". Rasanya airmata ini sudah mengembang, tinggal menunggu mengalir saja, namun tetap saya berdo'a jangan sampai Mas Abi melihat saya menangis.
Bukan karena melihat dia terluka, saya hampir menangis. Ketegarannya kali ini membuat saya menyadari, dia telah mulai memahami bahwa
rasa sakit bukan untuk ditangisi, sebuah titik balik dalam fase kehidupan. Dan sudah semakin dekat saat harus melepasnya belajar ke dunia luas.

Masih teringat saat mengenalkannya pertama kali pada dunia luar, saat itu di depan rumah. Dan dia tersenyum lucu saat saya berkata "Nak, lihat di atas sana ada daun hijau yang bergoyang tertiup angin, ada langit yang biru dihiasi awan putih." "Iqro bismirabbikalladzii khalaq" Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.

Tuesday, September 1, 2015

Teknologi Pasca Panen

Ketika harga komoditas turun, adalah tantangan para pemilik teknologi untuk meningkatkan daya jual.
Produk-produk mudah busuk atau "perishable food" saat panen raya pasti harganya murah. Karena memang, mereka hanya tahan beberapa hari atau bahkan berapa jam saja.
Perlunya transfer pengetahuan teknologi pasca panen dari pemilik teknologi ke petani mungkin merupakan salah satu solusi terbaik. Jadi ketika panen raya tidak terjadi hal-hal yang mubazir.
Yuk yang punya ilmu pengawetan pasca panen seperti pendinginan, pembekuan, pengalengan, pengeringan dan lain-lain di sharing jangan cuma disimpan dalam hati. Kalau memang berniat untuk membantu, mari bantu sampai ke akar tidak hanya di permukaan saja.
Tidak mudah memang, butuh waktu, tenaga, pikiran dan juga hati yang kuat, karena yang akan di rubah adalah "mindset"
Akan sulit mengubah kebiasaan membeli makanan yang sudah diawetkan dibandingkan makanan segar, namun bukankah sudah berhasil dilakukan pada berbagai komoditas di berbagai daerah seperti Malang dengan keripik apelnya, Lampung dengan keripik pisangnya, Cirebon dengan terasi udangnya bahkan waktu di Jepang sana saya makan manisan tomat yang katanya dari Indonesia. Dan saya yakin harganya tidak murah.
Saya juga sudah banyak menemukan buah kalengan, jamur kalengan, jagung kalengan apalagi ikan dan daging yang diolah dengan teknologi pengalengan di supermarket di sekitar. Bahkan gudeg jogja pun ada versi kalengannya.

Saturday, August 29, 2015

Kangkung- kangkungku

Ipomoea aquatica, ternyata bahasa latinnya kangkung bagus juga ya. Kangkung ini memang makanan rakyat, kalau pernah lihat sawah kangkung pasti berpikir menanam kangkung itu mudah. Padahal memang gampang, tinggal tancap batangnya dan langsung tumbuh. Tapi itu sekarang.

Lebih dari setahun lalu membeli bibit kangkung, semangat waktu menebar benihnya, senang rasanya waktu dari bibit-bibit itu menyembul keluar calon-calon tanaman baru. Tapi cuma sampai di situ saja. Mereka tidak bertambah besar. Duh, rasanya gimana gitu, kalau bahasa kekiniannya  "illfeel" kali ya. Akhirnya terlupakanlah ratusan bibit kangkung teronggok di sudut pintu.

Lho kok ratusan sih? Banyak ya? Jadi ceritanya suatu hari kami berjalan-jalan menikmati udara pagi di sekitar kompleks, melewati sawah kangkung, ladang bayam. Saya pun bilang sama si cinta, "Say, kepingin deh punya pohon kangkung di rumah, biar kalau mau masak tinggal petik, seperti waktu di Bandung dulu. Seperti biasa dengan bijaksana beliau pun menanggapi, boleh aja sayaang, cari aja bibitnya". "Yess! "dalam hati. Eh tapi maaf, sebenarnya sih percakapannya nggak romantis-romantis amat kayak yang di atas, itu cuma bumbu aja supaya terkesan asyik aja kalau suatu hari saya mau baca ulang coretan ini.

Singkat cerita kami pun menemukan warung bibit di pinggir jalan, dan ternyata ada benih kangkung. Waktu itu langsung bilang sama penjualnya kami mau membeli bibit kangkung, dan di ambilkanlah sebungkus bibit kangkung dari rak. "Pak, nggak ada yang lebih sedikit lagi?" Dahiku mulai berkerut. "Ini udah paling sedikit neng", sambut bapak tua itu. "Murah kok neng, cuma dua puluh ribu", katanya lagi. "Ya, udah pak kami ambil yang itu aja", jawab saya, sambil berfikir mau dikemanakan bibit setengah kg. Setelah membayar kamipun pergi sambil tersenyum-senyum membayangkan berapa hektar tanah yang kami harus miliki untuk bisa menanam bibit-bibit ini. Padahal kami cuma punya 2 pot ukuran 10cm x 50cm.

Hari pun berlalu semenjak kejadian kecambah yang gagal membesar, saya mulai lupa dengan bibit-bibit kangkung. Sampai beberapa bulan yang lalu akhirnya mengambil keputusan untuk mencoba kembali menebar bibit kangkung tersebut. Lima, hanya lima butir. Dan yang lolos sampai menjadi tanaman kangkung sesungguhnya hanya satu saja. Selanjutnya dari satu yang tumbuh besar hanya tinggal di potong dan disandingkan di sebelahnya.

Sebagai tambahan pengetahuan sambil mengingat-ingat pelajaran SMA berikut klasifikasi kangkung,

Kingdom : Plantae
Divisi: Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida;
Ordo : Solanales
Family: Convolvulaceae
Kelas: Ipomoea
Spesies : Ipomoea aquatica

Friday, August 28, 2015

Dibalik Jendela Lebar

Ketika ada yang bertanya padaku mengapa rumah ini berjendela lebar maka jawabanku akan sangat singkat, agar bisa melihat surga.
Eiits.. jangan berpikiran jauh-jauh dulu ya, kalau surga yang ini insyaallah masih bisa dirindukan kok karena memang tidak ada hubungannya dengan poligami. Walaupun belum tentu juga ketika seseorang laki-laki melakukan poligami tak ada lagi surga di rumahnya. Ah tapi belum pantas rasanya bicara tentang poligami, masih jauh rasanya ilmuku sampai di sana. Masih harus lebih banyak belajar lagi.

Kembali saja ke jendela, rumah berjendela lebar selalu mengingatkan aku akan masa kecilku. Di kala itu hatiku selalu tentram saat membuka jendela lebar-lebar dan  menatap hamparan hijau sawah dan pegunungan di hadapanku, dan buatku itulah surga dunia. Di sisi lain aku selalu bisa duduk sambil memancing atau sekedar memberi makan ikan-ikan dan menatap mereka berdesakan di kolam dari atas jendela lebar itu.

Ada saat-saat dimana aku melihat dari balik jendela, orang-orang bergegas ke mushala kala adzan berkumandang. Dan itu adalah momen terindah di masa kecilku.

Pernah juga aku melihat air tercurah dari langit kadang hanya berupa rintikan gerimis kecil yang sekedar menghilangkan dahaga kehidupan di bumi. Seringkali juga berupa guyuran derasnya air hujan yang kemudian mengalir memenuhi aliran sungai-sungai.

Dari balik jendela besar juga aku menikmati butiran salju putih seolah menari-nari di hembus dan di permainkan angin nan lembut sebelum kemudian melayang dipermukaan dan membentuk gundukan putih di tanah. Lalu kulihat pula badai menghempas butiran salju ke timur, ke barat, ke utara, ke selatan dan entah kemana lagi seolah tak perduli namun pada akhirnya berakhir terdiam di sudut luar rumah.

Suatu hari yang cerah di sisi jendela, aku menatap tanaman yang kutebas dan terluka. Dia tidak marah dan mati begitu saja. Tapi lukanya mengering seiring waktu berlalu. Dan kemudian bermunculan tunas-tunas daun hijau baru dari tepian luka, dan bahkan memberikan lebih kepadaku bunga-bunga mungil berwarna merah yang kuyakin suatu hari nanti kan menjelma menjadi buah berwarna hijau muda untuk dapat kupetik agar berguna.

Ya, selalu saja ada nilai kehidupan yang bisa kuambil saat duduk memandang dari balik jendela. Dan selalu ada surga di balik jendela lebar.

Thursday, August 27, 2015

Konflik Kepentingan

Konflik kepentingan, sepertinya heboh betul ya. Tapi pasti hampir semua orang pernah mengalaminya. Terutama bagi orang-orang seperti aku yang sering merasa nggak enak untuk menolak undangan.

Ada saat dimana aku sudah menyusun rencana dengan matang berhari- hari sebelumnya. Tapi sehari sebelum hari-H tiba-tiba ada hal lain yang memaksaku untuk membatalkan rencana yang hampir sempurna menurutku. Biasanya aku cuma bisa bilang lihat nanti aja.

Kalau sudah seperti itu aku akan membiarkan tangan-Nya yang bekerja. Karena toh aku merasa kesulitan juga untuk memilih. Walaupun mungkin pada akhirnya aku berusaha mengambil hikmah dari setiap kejadian setelahnya jika pilihanku memang tidak terpilih oleh-Nya.

Karena aku masih bisa melangkah dengan kepala tegak serta menyusun ulang rencana-rencana yang belum terlaksana. Sambil berharap semoga tidak ada yang tersakiti saat semua keputusan telah kuambil.